Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Link Banner

Eka Santosa Soroti Kualitas Demokrasi Pilkada di Tengah Masa Covid-19

CIMENYAN, faktabandungraya.com,--- Terdapat 8 Kabupaten Kota di wilayah Jawa Barat akan menyelenggarakan kontestasi Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak Tahun 2020. Pesta demokrasi yang digelar pada Hari Rabu 9 Desember tahun ini memiliki catatan tersendiri karena dilaksanakan di tengah masa Pandemi Covid-19.

Salahsatu politisi Jawa Barat Eka Santosa memberikan pandangan dan menyoroti beberapa hal terkait penyelenggaraan Pilkada serentak 2020, khususnya di wilayah Jawa Barat. Pilkada ini, kata Eka, merupakan perjalanan konstitusi di era demokrasi pasca reformasi, yang dimulai dengan pemilihan langsung Presiden, Gubernur dan Bupati atau Wali Kota sejak tahun 2004.

Menurutnya, format pemilihan pemimpin baik Presiden dan Kepala Daerah secara langsung saat ini merupakan fenomena yang terbilang baru dari perjalanan demokrasi sejak berdirinya Negara Kesatuan Rpublik Indonesia (NKRI). Sejak era Pemerintahan Soekarno dan Soeharto.

Selain membutuhkan biaya tinggi (High Cost), menurut mantan Ketua DPRD Jabar (1999-2004), Pilkada serentak Tahun 2020 yang diselenggarakan di tengah masa Pandemi akan berpengaruh pada tingkat partisipasi pemilih dan kualitas penyelenggaaran pilkada itu sendiri.

“tingkat partisipasi yang bisa dipastikan akan mengalami penurunan. Bahkan prediksi saya bisa saja ini di bawah 70 persen,” ujar Eka Santosa saat ditemui di Alam Wisata Eka Santosa, Pasir Impun, Cimenyan, Selasa (8/12/2020).

Berdasarkan data yang diumumkan KPU Jawa Barat, kegiatan pencoblosan dalam Pilkada Serentak 2020 di Provinsi Jabar bakal berlangsung di 33.305 Tempat Pemungutan Suara (TPS) di delapan kabupaten/kota. Pilkada Jabar 2020 rencananya melibatkan 11,6 juta warga yang sudah tercatat di Daftar Pemilih Tetap (DPT) dan 299 ribu petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS).

Dari sisi pendidikan politik, lanjut Eka, terdapat hambatan selama kampanye sehingga kurang berhasil tentang sosialisasi pemaknaan terhadap demokrasi sebagai perwujudan dari apa yang menjadi aspirasi masyarakat.

Bahkan dirinya menilai pelaksanaan pilkada di tengah masa pandemi terkesan akan memberikan keuntungan kepada pihak tertentu. “terutama petahana,” celetuknya, “sebab ada domain khsusus aspek kebijakan, walaupun dicutikan, dia memiliki perangkat birokrasi. Ini satu hal yang menurut saya memiliki kekhususan dari pilkada sebelumnya,” pungkasnya. (cuy)