![]() |
| Pemkot Bandung dukung akses menuju TPA Jelekong |
Menurut Farhan, lahan untuk
pengembangan TPA Jelekong telah tersedia. Namun, persoalan utama yang harus
segera dituntaskan adalah pembangunan akses jalan menuju lokasi. Ia bahkan
membuka peluang kolaborasi pembiayaan antara Pemkot Bandung dan Pemerintah
Kabupaten Bandung.
“Kalau kita patungan membangun
akses jalan masuk ke sini, Kota Bandung dan Kabupaten Bandung sama-sama
diuntungkan. Benefit-nya jelas,” ujarnya.
Farhan menyebut, produksi sampah
Kota Bandung saat ini mencapai sekitar 1.500 ton per hari, sedangkan Kabupaten
Bandung sekitar 1.800 ton per hari. Dengan total hampir 3.300 ton per hari,
kedua daerah menghadapi tantangan besar, terutama karena sebagian besar
pengelolaan masih menggunakan sistem open dumping.
![]() |
| Menteri LH duukung keberadaan TPA Jelekong |
Ia menilai pengembangan TPA
Jelekong dapat menjadi solusi bersama, asalkan didukung infrastruktur memadai.
Salah satu opsi yang diusulkan adalah pembangunan akses baru dari Kilometer 151
langsung menuju kawasan TPA.
Sementara itu, Menteri Lingkungan
Hidup RI, Hanif Faisol Nurofiq, menjelaskan bahwa pembangunan akses jalan
menjadi kewenangan Kementerian Pekerjaan Umum. Namun, pemerintah daerah perlu
menyiapkan desain teknis serta menyelesaikan proses pembebasan lahan.
“Kalau akses masuk ditugaskan ke
Menteri PU untuk mendorong pembangunannya. Yang diperlukan nanti desain dan
pembebasan tanahnya. Untuk pembangunan fisiknya saya rasa tidak ada masalah,”
kata Hanif.
Pemkot Bandung berharap sinergi
antara pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten/kota dapat mempercepat
realisasi akses menuju TPA Jelekong, sehingga pengelolaan sampah di kawasan
Bandung Raya dapat dilakukan lebih terintegrasi dan berkelanjutan. (kyy/red).

.jpeg)