![]() |
| Menteri LH Apresiasi program Gaslah Kota Bandung |
Peninjauan dilakukan di RW 19
Kelurahan Antapani Tengah dan RW 05 Kelurahan Dago. Dalam kesempatan tersebut,
Hanif menilai pendekatan penanganan sampah dari hulu yang diterapkan Kota
Bandung menjadi langkah mendasar dalam menyelesaikan persoalan sampah
perkotaan.
“Ini merupakan langkah paling
mendasar untuk penanganan sampah. Banyak negara memerlukan waktu 10 sampai 15
tahun untuk melakukan hal yang sama,” ujarnya.
Ia menegaskan, persoalan sampah
tidak bisa sepenuhnya dibebankan kepada tempat pemrosesan akhir (TPA), terlebih
dengan keterbatasan daya tampung seperti yang terjadi di TPA Sarimukti.
Menurutnya, kunci keberhasilan justru terletak pada perubahan perilaku
masyarakat dan kemampuan menyelesaikan sampah sejak dari lingkungan tempat tinggal.
“Langkah paling ideal di tengah
desakan kedaruratan sampah ini adalah menyelesaikan sampahnya di hulu,”
katanya.
Hanif mengapresiasi konsistensi Pemkot Bandung dalam membangun ekosistem pengelolaan sampah berbasis kewilayahan melalui Gaslah yang melibatkan partisipasi aktif warga. Ia berharap praktik baik tersebut dapat diperluas dengan dukungan dunia usaha dan pengelola kawasan agar pengelolaan sampah semakin mandiri.

Menteri LH dan Wali Kotta Bandung bersama Tim Gaslah
Sementara itu, Wali Kota Bandung,
Muhammad Farhan, menyebut kunjungan menteri merupakan tindak lanjut koordinasi
intensif antara pemerintah pusat dan daerah dalam percepatan penanganan sampah.
“Ini salah satu bentuk tindak
lanjut koordinasi, termasuk setelah Rakornas penanganan sampah beberapa hari
lalu,” ujarnya.
Selain Gaslah, Kota Bandung juga
menjalankan program Kang Pisman (Kurangi, Pisahkan, Manfaatkan) yang kini
diintegrasikan dengan program Buruan Sae dan Dapur Dahsat dalam konsep ekonomi
sirkular.
