Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Link Banner

Iis Turniasih : Suplay Air Terganggu, Ada Sekitar 13 Persen Irigasi di Jabar Rusak Berat

Hj.Iis Turniasih ( Anggota Komisi IV DPRD Jabar  
BANDUNG,Faktabandungraya.com,--- Anggota Komisi IV DPRD Jawa Barat Hj.Iis Turniasih mengatakan, keberhasilan dan meningkatnya produksi
 pertanian tidak terlepas dari kondisi jaringan irigasi. Dari hasil kunjungan kerja dan monitoring Komisi IV DPRD Jabar ternyata, ada sekitar 13 persen kondisi jaringan irigasi di Jabar dalam kondisi rusak berat, 9 persen irigasi rusak sedang dan sisanya rusak ringan.

Menurut Iis Turniasih, tingkat kerusakan Irigasi di wilayah Jabar ini tersebar di seluruh UPTD Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) di bawah Dinas Sumber Daya Air (Dinas SDA) Jabar. Dengan ditemukannya tingkat kerusakan jaringan irigasi mulai rusak ringan, sedang, hingga berat, tentunya akan berdampak terhadap kebutuhan akan sumber air untuk pertanian.

“ Kalau suplay air tertanggu karena adanya kebocoran jaringan irigasi tentunya berdampak akan produksi pertanian, sehingga secara otomatis juga berdampak terhadap kebutuhan akan ketahanan pangan Jabar”, ujar Hj.Iis Turniasih saat diminta tanggapannya terkait hasil monitoring jaringan irigasi yang dilakukan oleh Komisi IV DPRD Jabar, di Gedung DPRD Jabar, jalan Diponegoro No 27 Bandung, Jum’at (5-2-2021).

Dengan irigasi yang banyak rusak tentunya sangat berdampak terhadap produksi ketahanan pangan Padi-red). Sehingga cukup wajar, bagi masyarakat berprofesi sebagai petani mengeluhkan hasil produksi padinya kurang maksimal, akibat suplay  sumber daya air  yang kurang dan tidak maksimal, ujarnya.

Iis juga mengatakan, sewaktu rombongan melakukan kunker da monitoring ke UPTD Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) Wilayah Sungai Cimanuk-Cisanggarung di Cirebon, Kamis (4/-2021) kemarin, pihak UPTD menyampaikan dan mengakui  bahwa ada beberapa jaringan irigasi di UPTD PSDA Wilayah Sungai Cimanuk-Cisanggarung di Cirebon yang rusak.

Menurut pejabat UPTD, kerusakan itu jaringan irigasi tersebut, sebanarnya sudah diupayakan untuk diperbaiki, namun, berhubungan keterbatasan anggaran yang ada di UPTD kami, maka terpaksa perbaikan kita lakukan ala kadarnya, ujar Iis menirukan apa yang disampaikan oleh pejabat UPTD PSDA Wilayah Sungai Cimanuk-Cisanggarung kepada Komisi IV, kemarin.

Kita (Komisi IV) dapat memahami apa yang disampaikan oleh pejabat UPTD PSDA, dalam melakukan penanganan jaringan irigasi dengan keterbatasan anggaran, bahkan dapat dikatakan anggarannya cukup minim.  Padahal, jaringan Irigasi di bawah kewenangan Provinsi Jawa Barat (Dinas SDA-red) cukup banyak dan panjang yang  tersebar di  27 kabupaten/kota se Jabar.

Dengan melihat data kerusakan Irigasi tersebut diatas, tentunya dengan alokasi anggaran yang minim sangat  kurang mendukung untuk membuat jaringan irigasi yang berfungsi secara maksimal.  Bahkan plot anggaran dari APBD Jabar hanya untuk memperbaiki satu atau dua irigasi, itupun tidak akan memungkinkan, ujarnya.

Lebih lanjut Iis mengatakan, anggaran operasional pemeliharaan pun hanya ada diangka 2 milyaran, padahal jumlah irigasi di wilayah Jabar cukup banyak, sehingga dirasakan anggaran sebesar 2 milyar yang dialokasikan dalam APBD Jabar  tidak akan mencukupi.

Ia menambahkan, bahwa saat ini sudah musim penghujan, yang dapat meluluh lantahkan konstruksi jaringan Irigasi. Untuk itu, kita harus serius menuntaskannya kita harus punya peta roadmap yang jelas, ujarnya.

Sebanarnya DPRD Jabar khususnya Komisi IV, sudah mendorong agar anggaran untuk sektor irigasi dapat ditingkatkan untuk mengatasi kerusakan dan pengembangan irigasi. Namun, tetap saja kurang mendapat perhatian dari Pemprov Jabar. Padahal, Irigasi merupakan kewenangan pemerintah daerah, tandasnya. (adikarya/husein).

Posting Komentar

0 Komentar