Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Link Banner

TPA Cipayung Sudah Overkapasitas, Hasbullah Dorong Percepatan Beroperasinya TPPASR Lulut Nambo

M.Hasbullah Rahmat, S.Pd, M.Hum, anggota Komisi IV DPRD Jabar dari
 Fraksi PAN (foto:husein).
DEPOK, Faktabandungraya.com,--- Proyek pembangunan Tempat Pengolahan dan Pemrosesan Akhir Sampah Regional (TPPASR) Lulut Nambo di Kabupaten Bogor merupakan rencana strategis Pemprov Jabar dalam pengelolaan sampah. Dan kini tengah dikebut pembangunan infrastruktur maupun teknologi yang akan diterapkan.

Keberadaan TPPASR Lulut Nambo dengan luas sekitar 15 hektar tersebut, nantinya akan diperuntukan bagi sampah-sampah dari wilayah Bogor Raya, Kota Tangerang Selatan dan Kota Depok.

Menurut anggota Komisi IV DPRD Jabar, M.Hasbullah Rahmat, S.Pd, M.Hum, keberadaan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipayung kini sudah overkapatas, karena setiap hari sampah yang dihasilkan dari seluruh wilayah Kota Depok bias mencapai 1.300 ton per-hari. Dan yang dibuang ke TPA Cipayung sebanyak 800 ton per hari.

Untuk itu, kenapa kita di DPRD Jabar sangat mendorong agar TPPASR Lulut Nambo cepat beroperasi karena kondisi TPA Cipayung memang sudah overkapasitas, ujarnya.

Pembangunan TPPASR Lulut Nambo memang sempat tersendat, karena belum ada pemenang perusahaan pemenang untuk mengolah limbah sampah di TPPASR Lulut Nambo. Namun, kini BUMD PT. Jasa Sarana selaku  konsorsium, dikabarkan telah menggandeng perusahaan Jerman untuk mengolah limbah sampah di TPPASR Lulut Nambo menjadi sumber energi berupa Refuse Derived Fuel (RDF) sebagai bahan bakar alternatif batubara.

Adapun perusahaan Jerman yang menjadi pemenangnya adalah Jerman Euwelle Environtmental Technology GmBH dengan nilai investasi mencapai 133,3 juta dollar AS. Dengan telah ada pemenangnya, maka kita di DPRD Jabar mendorong agar pembangunan infraruktur dan teknologi yang akan diterapkan cepat selesai, kata Hasbullah saat dihubungi, Selasa (22/6-2021).

Nanti pengolahan limbah sampah di TPPASR Lulut Nambo menjadi sumber energi berupa Refuse Derived Fuel (RDF) sebagai bahan bakar alternatif batubara (briket) dan residunya kecil.

Anggota Komisi IV DPRD Jabar dari Dapil 8, Kota Bekasi-Depok menambahkan, hal yang menarik hasil dari pengolahan limbah sampah di Lulut Nambo ini sudah ada perusahaan semen di Bogor yang tertarik menggunakannya untuk bahan bakar pembuatan semen. ’’PT Indocemen, Cibinong itu sudah tertarik dan mau membelinya.

Lebih lanjut Politisi PAN Jabar ini mengatakan, bahwa pencanangan TPPASR Lulut Nambo dicanangkan sejak Gubernur Ahmad Heryawan pada 2017 dengan investasi mencapai USD46 juta. Namun, pengerjaan proyek ini oleh konsorsium PT Jabar Bersih Lestari (JBL) sempat terkatung-katung. Saham mayoritas di konsorsium ini dipegang PT Panghegar Energy Indonesia (PEI).

Pada Desember 2018, Gubernur Ridwan Kamil kembali melakukan peletakan batu pertama untuk proyek TPPASR Lulut Nambo ini. Pada 2019 Pemprov Jabar menyomasi PT JBL karena dinilai cidera janji gagal memenuhi masa waktu mulai beroperasi TPPAS Lulut Nambo atau comersial operation date (COD). Hal ini ditunjukan melalui progress pelaksanaan fisik yang masih rendah. Pemprov Jabar pun mengajukan PT Jasa Sarana selaku BUMD Pemprov Jabar dan meminta PT PEI mengalihkan saham mayoritasnya kepada PT Jasa Sarana, sesuai klausul yang mereka tandatangani.

PT Jasa Sarana diminta Pemprov Jabar menggandeng mitra yang memiliki kekuatan dan modal untuk melanjutkan TPPASR Lulut Nambo. Targetnya pada tahun 2021 pembangunan kontruksi dan tahun 2022 TPPASR Lulut Nambo sudah dapat dioperasikan berserta teknologi pengolahan limbahnya, sebagai penghasil Briket. Tandasnya. (adikarya/husein).