Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Link Banner

Ironis !!!, Jabar Lumbung Padi Nasional, Memo : Sayangnya Banyak D.I Tidak Diurus

Rombngan Komisi IV DPRD JAbar saat minjau DI di Kabupaten Bandung ( foto:dok.ist)
BANDUNG, Faktabandungraya.com,--- Sejak dahulu, provinsi Jawa Barat merupakan lumbung padi nasional, namun beberapa tahun belakangan ini tingkat produksi padinya terus menurun, salah satunya disebabkan banyak Daerah Irigasi (D.I) yang tidak dikelola dengan baik. Hal ini terbukti kondisi bendung/ jaringan irigasi dan pintu airnya sudah pada rusak.

Menurut anggoa Komisi IV DPRD Jabar, H.Memo Hermawan, bagaimana produksi pertanian/ padi dapat ditingkatkan, wong kondisi bendungan dan pintu airnya banyak yang rusak.

“Jadi ini sungguh ironis untuk pengelolaan sumber daya air di Jawa Barat. Betapa tidak, Jabar merupakan lumbung padi nasional. Sayangnya, daerah irigasinya tidak terkelola dengan baik”, kata Kang Memo Hermawan saat dihubungi melelui telepon selulernya,  Sabtu (10/ 7-2021).

Dikatakan, Dinas Sumber Daya Air Provinsi Jawa Barat memiliki 6 UPTD PSDA Wilayah Sungai, dari ke UPTD PSDA yang ada, berdasarkan hasil pemantau Komisi IV DPRD Jabar, kondisi bendung dan pintu airnya, tingkat kerusakannya mulai dari berat, sedang dan ringan.

BEberapa waktu lalu, rombongan Komisi IV DPRD Jabar meninjau DI Cisamaya-bendung Cidogdog di Desa Cisaat Kecamatan Dukuhpuntang Kabupaten Cirebon. Dan juga meninjau DI Leuwijawa di Desa Cimara Kecamatan Mandirancan Kabupaten Kuningan. Kedua DI tersebut termasuk UPTD PSDA Wilayah Sungai Cimanuk-Cisanggarung.

Kedua DI tersebut mayoritas mengairi persawahan di Kabupaten Cirebon karena airnya mengairi sawah-sawah di wiliyah hilirnya. Sayangnya, kondisi bendung dan pintu airnya tidak ideal. Palang pintu bendung terbuat dari gedebong pisang. Selain itu, ulir pintu airnya banyak yang sudah hilang. Dengan demikian pintu air tersebut tidak bisa lagi menjadi pintu air pengatur dalam pendistribusian air.

Bahkan, bendung tak lagi bisa digunakan untuk menjadi pengatur tinggi muka air yang juga merupakan pengaturan stok/cadangan air. Selain itu, kondisi daerah irigasinya juga menjadi tidak optimal karena jaringan irigasi (konjar) yang ada sudah banyak "terkoyak" di sana-sini, ujar kang Memo.

Dengan banyak kondisi bendung dan pintu air yang rusak, rasanya misi Gubernur Jabar menjadikan Jabar Juara di Bidang Ketahanan Pangan, sangat sulit tercapai. Hal ini sungguh ironis dan memperihatinkan.

Lantas apa mungkin Jabar sebagai lumbung padi nasional dapat dipertahankan ?. Kalau toh bertahan, kemungkinan besar hasil panen akan terus menurun, ujar politisi senior PDIP Jabar ini.

Kang Memo menambahkan, kalau dilihat dari besaran APDB Jabar yang mencapai Rp.44 triliun dan tetap ingin mempertahankan posisi sebagai lumbung padi nasional, tentunya, pemerintah provinsi melalui Dinas SDA beserta jajarannya (6 UPTD PSDA-red) harus melakukan perbaikan terhadap bendungan dan DI serta JI (Jaringan Irigasi) yang berada di bawah kewenganan UPTD PSDA Wilayah.

Rombongan Komisi IV Saat meninjau kondisi Daerah Irigasi (foto:dok.ist).  

Kondisi itu memang benar-benar menyedihkan. Padahal, masyarakat sangat membutuhkan berfungsinya secara optimal setiap bendung yang ada. Para petani kita pasti mendambakan seluruh daerah irigasi dan jaringan irigasi (DI dan JI) yang ada terairi dengan baik. Untuk itu, semua konjar harus dalam kondisi baik agar air mengalir sampai jauh. Pintu-pintu air yang ada diharapkan berfungsi untuk mengatur distribusi air.

Lebih lanjut Kang Memo yang juga Ketua Fraksi PDIP DPRD Jabar ini mengatakan, peran para petugas lapangan di setiap sub-unit pelayanan (SUP) amat membantu semua itu. Kondisi itu akan menaikkan intensitas tanam yang secara otomatis akan menaikan nilai tukar petani (NTP). Akhirnya, jika itu yang terjadi, kesejahteraan petani akan meningkat.

Alagi saat ini Jawa Barat sudah memiliki Peraturan Daerah (perda) Nomor 4 Tahun 2012 Tentang Kemandirian Pangan Daerah. Jangan sampai penegakan perda tersebut hanya ditunjang dengan gedebong pisang.

Jabar adalah provinsi yang menjadi juara nasional di bidang operasi dan pemeliharaan (OP) irigasi. Masa sih di provinsi yang menjadi lumbung padi nasional palang pintu airnya masih ada yang terbuat dari gedebong pisang dan tanpa ulir pengatur?, tandasnya. (adikarya/husein).