Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Inaugurasi REVOSA 2025 USB YPKP Bandung: Anak Muda Didorong Jadi Penjaga Demokrasi dan Pertahanan Bangsa

Jumat, 30 Januari 2026 | 22:06 WIB Last Updated 2026-01-30T15:06:44Z
Klik
Jend (Purn) Gatot Nurmantio dalam acara Ianugurasi REVOSA  USB YPKP



BANDUNG, Faktabandungraya,--- Universitas Sangga Buana (USB) YPKP Bandung menggelar kuliah umum bertema “Menuju Indonesia 2045: Anak Muda, Demokrasi dan Pertahanan Bangsa” dalam rangka Inaugurasi REVOSA 2025, Kamis (29/1). Kegiatan ini menegaskan peran strategis generasi muda sebagai penentu arah bangsa di tengah tantangan demokrasi, krisis ekologi, dan dinamika geopolitik global.

Kuliah umum tersebut diikuti ribuan mahasiswa baru yang menyimak pemaparan empat narasumber nasional dengan latar belakang dan perspektif kritis, yakni mantan Menteri Kehutanan M.S. Kaban, pakar hukum tata negara Prof. Refly Harun, Jenderal TNI (Purn) Gatot Nurmantyo, serta pengamat politik Rocky Gerung.

Rektor USB YPKP Bandung, Dr. Didin Saepudin, dalam sambutannya menyampaikan bahwa mahasiswa angkatan 2025 merupakan generasi yang akan memegang peran kunci pada momentum Indonesia Emas 2045. Menurutnya, konsep pertahanan bangsa di era modern tidak lagi semata berbasis kekuatan militer, tetapi juga mencakup dimensi moral, karakter, ilmu pengetahuan, teknologi, ekonomi, dan persatuan nasional.

“Ancaman terhadap bangsa hari ini bisa datang dalam bentuk hoaks, radikalisme, perpecahan sosial, hingga ketertinggalan teknologi. Semua itu hanya bisa dihadapi oleh generasi muda yang cerdas, berkarakter, dan berintegritas,” ujar Didin.

Senada dengan itu, Wakil Rektor III USB YPKP Bandung, Dr. Nurhaeni Sikki, S.A.P., M.A.P., menegaskan pentingnya peran mahasiswa sebagai warga negara yang beretika, sadar politik, dan tangguh menghadapi ancaman non-tradisional.

“Kualitas masa depan Indonesia sangat ditentukan oleh kapasitas intelektual dan kepedulian sosial mahasiswa. Universitas harus menjadi ruang dialektika agar mahasiswa tumbuh menjadi pemimpin merdeka yang mampu menjaga kedaulatan dan kepentingan nasional,” katanya.

Ketua Yayasan YPKP USB, Dr. Ricky Agusiady, mengingatkan bahwa bonus demografi yang dinikmati Indonesia pada periode 2020–2035 bukanlah jaminan keberhasilan. Tanpa pembinaan yang tepat, bonus tersebut justru berpotensi berubah menjadi beban sosial.

“Bonus demografi tidak otomatis menjadi berkah. Generasi muda harus dibentuk menjadi subjek demokrasi yang kritis, beretika, dan bertanggung jawab terhadap masa depan bangsa,” ujarnya.

Kritik Tajam Soal Lingkungan dan Demokrasi

Dalam paparannya, M.S. Kaban menyampaikan kritik keras terkait kondisi lingkungan, khususnya di Jawa Barat. Ia menyebut wilayah tersebut telah berada dalam status “disaster” akibat rusaknya sistem pengelolaan alam dan menyusutnya tutupan hutan.

“Tutupannya hanya tersisa sekitar 19 persen, jauh dari ideal 30 persen. Kondisi ini adalah bencana, dan generasi mudalah yang akan menanggung dampaknya,” tegas Kaban.

Ia juga mengungkap data penyusutan kawasan hutan Indonesia dari 137 juta hektare pada periode 2009–2014 menjadi sekitar 110 juta hektare dalam satu dekade terakhir. Kaban mempertanyakan arah kebijakan pemanfaatan lahan serta mengkritik maraknya tambang ilegal dan inkonsistensi penegakan hukum.

Selain isu lingkungan, Kaban turut menyoroti kondisi demokrasi yang dinilainya semakin elitis dan mengarah pada praktik dinasti politik.

Sorotan Kebebasan Sipil dan Geopolitik

Rocky Gerung jadi narsum Inaugurasi REVOSA 2025 USB YPKP Bandung 


Pakar hukum tata negara  Refly Harun menyoroti melemahnya kebebasan sipil dan kriminalisasi terhadap kebebasan berpikir. Ia menyebut, negara yang mengkriminalkan pemikiran kritis menandakan kualitas demokrasi yang buruk.

“Jika orang berpikir saja dikriminalkan, itu tanda demokrasi yang bermasalah,” ujarnya.

Sementara itu, Jenderal TNI (Purn) Gatot Nurmantyo memaparkan tantangan geopolitik global yang kian kompleks, terutama terkait perebutan sumber daya alam akibat pertumbuhan penduduk dunia. Ia mengingatkan generasi muda agar tidak kehilangan kedaulatan di tengah tekanan global.

“Pertanyaannya, apakah generasi muda akan menjadi pewaris Republik ini, atau justru menjadi budak bangsa lain?” katanya.

Dari perspektif ekonomi, Rocky Gerung menyoroti paradoks antara pencitraan politik dan realitas ekonomi nasional. Ia menilai terdapat potensi krisis jika kebijakan ekonomi tidak berpijak pada data dan realitas yang jujur.

“Kita menghadapi risiko pembusukan ekonomi jika terus mengandalkan pencitraan tanpa fondasi yang kuat,” ujarnya.

Panggilan bagi Generasi Muda

Kuliah umum Inaugurasi REVOSA 2025 USB YPKP Bandung menjadi ruang refleksi kritis bagi mahasiswa baru mengenai tantangan menuju Indonesia Emas 2045. Para narasumber sepakat bahwa krisis ekologi, pelemahan demokrasi, serta tekanan ekonomi dan geopolitik hanya dapat dihadapi jika generasi muda dipersiapkan dengan nalar kritis, keberanian moral, dan kepedulian terhadap keadilan sosial serta lingkungan.

Masa depan Indonesia, sebagaimana ditegaskan dalam forum tersebut, sepenuhnya berada di tangan dan pilihan generasi muda hari ini. (*/red). 

×
Berita Terbaru Update