![]() |
| Jend (Purn) Gatot Nurmantio dalam acara Ianugurasi REVOSA USB YPKP |
Kuliah umum tersebut diikuti ribuan
mahasiswa baru yang menyimak pemaparan empat narasumber nasional dengan latar
belakang dan perspektif kritis, yakni mantan Menteri Kehutanan M.S. Kaban,
pakar hukum tata negara Prof. Refly Harun, Jenderal TNI (Purn) Gatot Nurmantyo,
serta pengamat politik Rocky Gerung.
Rektor USB YPKP Bandung, Dr. Didin
Saepudin, dalam sambutannya menyampaikan bahwa mahasiswa angkatan 2025
merupakan generasi yang akan memegang peran kunci pada momentum Indonesia Emas
2045. Menurutnya, konsep pertahanan bangsa di era modern tidak lagi semata
berbasis kekuatan militer, tetapi juga mencakup dimensi moral, karakter, ilmu
pengetahuan, teknologi, ekonomi, dan persatuan nasional.
“Ancaman terhadap bangsa hari ini bisa
datang dalam bentuk hoaks, radikalisme, perpecahan sosial, hingga
ketertinggalan teknologi. Semua itu hanya bisa dihadapi oleh generasi muda yang
cerdas, berkarakter, dan berintegritas,” ujar Didin.
Senada dengan itu, Wakil Rektor III
USB YPKP Bandung, Dr. Nurhaeni Sikki, S.A.P., M.A.P., menegaskan pentingnya
peran mahasiswa sebagai warga negara yang beretika, sadar politik, dan tangguh
menghadapi ancaman non-tradisional.
“Kualitas masa depan Indonesia sangat
ditentukan oleh kapasitas intelektual dan kepedulian sosial mahasiswa. Universitas
harus menjadi ruang dialektika agar mahasiswa tumbuh menjadi pemimpin merdeka
yang mampu menjaga kedaulatan dan kepentingan nasional,” katanya.
Ketua Yayasan YPKP USB, Dr. Ricky
Agusiady, mengingatkan bahwa bonus demografi yang dinikmati Indonesia pada
periode 2020–2035 bukanlah jaminan keberhasilan. Tanpa pembinaan yang tepat,
bonus tersebut justru berpotensi berubah menjadi beban sosial.
“Bonus demografi tidak otomatis
menjadi berkah. Generasi muda harus dibentuk menjadi subjek demokrasi yang kritis,
beretika, dan bertanggung jawab terhadap masa depan bangsa,” ujarnya.
Kritik Tajam Soal Lingkungan dan
Demokrasi
Dalam paparannya, M.S. Kaban
menyampaikan kritik keras terkait kondisi lingkungan, khususnya di Jawa Barat.
Ia menyebut wilayah tersebut telah berada dalam status “disaster” akibat
rusaknya sistem pengelolaan alam dan menyusutnya tutupan hutan.
“Tutupannya hanya tersisa sekitar 19
persen, jauh dari ideal 30 persen. Kondisi ini adalah bencana, dan generasi
mudalah yang akan menanggung dampaknya,” tegas Kaban.
Ia juga mengungkap data penyusutan
kawasan hutan Indonesia dari 137 juta hektare pada periode 2009–2014 menjadi
sekitar 110 juta hektare dalam satu dekade terakhir. Kaban mempertanyakan arah
kebijakan pemanfaatan lahan serta mengkritik maraknya tambang ilegal dan
inkonsistensi penegakan hukum.
Selain isu lingkungan, Kaban turut
menyoroti kondisi demokrasi yang dinilainya semakin elitis dan mengarah pada
praktik dinasti politik.
Sorotan Kebebasan Sipil dan Geopolitik
![]() |
| Rocky Gerung jadi narsum Inaugurasi REVOSA 2025 USB YPKP Bandung |
“Jika orang berpikir saja
dikriminalkan, itu tanda demokrasi yang bermasalah,” ujarnya.
Sementara itu, Jenderal TNI (Purn)
Gatot Nurmantyo memaparkan tantangan geopolitik global yang kian kompleks,
terutama terkait perebutan sumber daya alam akibat pertumbuhan penduduk dunia.
Ia mengingatkan generasi muda agar tidak kehilangan kedaulatan di tengah
tekanan global.
“Pertanyaannya, apakah generasi muda
akan menjadi pewaris Republik ini, atau justru menjadi budak bangsa lain?”
katanya.
Dari perspektif ekonomi, Rocky Gerung
menyoroti paradoks antara pencitraan politik dan realitas ekonomi nasional. Ia
menilai terdapat potensi krisis jika kebijakan ekonomi tidak berpijak pada data
dan realitas yang jujur.
“Kita menghadapi risiko pembusukan
ekonomi jika terus mengandalkan pencitraan tanpa fondasi yang kuat,” ujarnya.
Panggilan bagi Generasi Muda
Kuliah umum Inaugurasi REVOSA 2025 USB
YPKP Bandung menjadi ruang refleksi kritis bagi mahasiswa baru mengenai
tantangan menuju Indonesia Emas 2045. Para narasumber sepakat bahwa krisis
ekologi, pelemahan demokrasi, serta tekanan ekonomi dan geopolitik hanya dapat
dihadapi jika generasi muda dipersiapkan dengan nalar kritis, keberanian moral,
dan kepedulian terhadap keadilan sosial serta lingkungan.
Masa depan Indonesia, sebagaimana
ditegaskan dalam forum tersebut, sepenuhnya berada di tangan dan pilihan
generasi muda hari ini. (*/red).

