![]() |
| Daddy Rohanady saat meleksanakan Pengawasan Pemerintahan di Desa Jationam |
Desa Jatianom tercatat sebagai desa
dengan luas sawah terbesar ketiga di Kecamatan Susukan, yakni mencapai sekitar
700 hektare. Peringkat pertama ditempati Desa Susukan dengan luas sawah 1.000
hektare, disusul Desa Ujung Gebang dengan 800 hektare. Namun luas lahan
pertanian tersebut belum sepenuhnya didukung infrastruktur dan sarana penunjang
yang memadai.
Dalam pertemuan tersebut, warga
menyampaikan sedikitnya sembilan pekerjaan rumah (PR) yang sangat membutuhkan
perhatian dan dukungan dari Pemerintah Kabupaten Cirebon, Pemerintah Provinsi
Jawa Barat, hingga Pemerintah Pusat.
Salah satu kebutuhan mendesak adalah
pembangunan Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) untuk membantu sawah-sawah yang
sulit teraliri irigasi teknis, terutama lahan yang posisinya lebih tinggi dari
saluran irigasi yang ada. JIAT dinilai sebagai solusi alternatif selain
pompanisasi.
Selain itu, petani juga mengeluhkan
kebutuhan benih padi yang sesuai dengan kondisi alam, termasuk ketepatan waktu
distribusi benih yang sangat berpengaruh terhadap kualitas dan hasil panen.
Warga juga menekankan pentingnya pembangunan jalan usaha tani (JUT) untuk
memudahkan akses petani menuju sawah, terutama saat musim panen.
Masalah irigasi teknis turut menjadi sorotan karena dianggap sebagai syarat mutlak agar tanaman padi dapat tumbuh optimal. Tak hanya sektor pertanian, kondisi jalan poros desa sepanjang sekitar tiga kilometer yang kini rusak parah dan berlubang dalam juga dikeluhkan warga karena menghambat aktivitas sehari-hari.

Daddy Rohanady bersama warga Jatianom
Di bidang lingkungan, warga mengusulkan adanya alat angkut sampah atau incinerator mini guna mengurangi volume sampah yang dikirim ke wilayah hilir. Hal ini dinilai penting mengingat Cirebon Raya hingga kini belum memiliki TPPAS Regional.
Sementara di sektor sosial, warga
meminta reaktivasi BPJS Kesehatan karena banyak kepesertaan warga yang
dinonaktifkan. Selain itu, kader Posyandu, pengurus RT dan RW, LMD, guru ngaji,
serta imam masjid juga mengeluhkan menurunnya honor akibat pemotongan dana desa
yang kini hanya tersisa sekitar 30 persen.
Warga Desa Jatianom berharap, melalui
kegiatan pengawasan ini, seluruh aspirasi dapat diperjuangkan dan kondisi
keuangan desa segera dipulihkan. Dengan demikian, roda pemerintahan dan
kehidupan sosial masyarakat dapat kembali berjalan normal seperti sedia kala. (kdr/red).
