BANDUNG, FAKTABANDUNGRAYA,--- Wali
Kota Bandung, Muhammad Farhan membeberkan, strategi kebangkitan sektor
pariwisata Kota Bandung pascapenurunan tajam sepanjang awal 2025. Melalui
penguatan mobilitas wisatawan dan penyelenggaraan ratusan event, Farhan
optimistis ekonomi Bandung kembali menggeliat dengan proyeksi pertumbuhan
mencapai 5,7 hingga 6 persen.
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan
Hal tersebut diungkapkannya saat
menjadi Keynote Speaker Transformation MVB Indonesia Sustainability Forum yang
digelar di Artotel Suites Aquila Bandung, Kamis 12 Februari 2026.
Farhan mengungkapkan, Kota Bandung
dengan populasi sekitar 2,6 juta jiwa memiliki mobilitas orang yang sangat
tinggi. Sepanjang 2025, tercatat sekitar 24 juta pergerakan penerbangan masuk
dan keluar dari Bandung, yang berarti ada sekitar 12 juta mobilitas orang dari
dan ke Kota Bandung.
“Sejak 5 April 2025, setelah
Lebaran pariwisata Bandung mulai mengalami momen pemulihan. Ini jadi titik
balik bagi industri hotel, restoran dan sektor pendukung lainnya,” kata Farhan.
Ia mengaku, kebijakan pengetatan
anggaran kegiatan dan perjalanan dinas pemerintah sejak awal 2025 berdampak
besar pada industri pariwisata Bandung. Ketergantungan hotel dan restoran pada
kegiatan MICE (meeting, incentive, convention, exhibition) pemerintah membuat
tingkat hunian anjlok drastis.
“Okupansi hotel yang sebelumnya di
kisaran 50–60 persen, sempat jatuh ke angka rata-rata 30 persen selama sekitar
tiga bulan. Bahkan, potensi industri pariwisata kita tinggal 38 persen,”
ungkapnya.
Untuk keluar dari situasi tersebut,
Pemkot Bandung menggulirkan strategi menghidupkan mobilitas wisata melalui
penyelenggaraan event secara masif. Sepanjang 2025, Bandung menjadi tuan rumah
sekitar 260 event lokal hingga nasional.
“Mobilitas itu kunci. Ketika orang
bergerak, pariwisata hidup. Maka kami dorong event sebagai mesin penggerak
ekonomi,” ujar Farhan.
Pemkot Bandung juga memberikan
berbagai insentif kepada promotor event. Salah satunya berupa diskon pajak
hiburan PB1 hingga 50 persen untuk acara yang dinilai berdampak besar pada
pergerakan wisatawan.
Tak hanya event seni dan hiburan,
euforia juara Persib Bandung juga disebut Farhan memberi dampak signifikan bagi
perputaran ekonomi.
Perayaan kemenangan yang
berlangsung hampir tiga pekan penuh memicu lonjakan kunjungan wisatawan dari
berbagai daerah di Jawa Barat.
“Orang datang, menginap, makan di
restoran, belanja di warung. Ekonomi bergerak nyata di level mikro,” ujarnya.
Selain itu, event olahraga berskala
besar seperti Pocari Sweat Run (Marathon) juga dimaksimalkan sebagai magnet
wisata. Pemkot Bandung bahkan mendorong penyelenggara untuk memperpanjang
durasi acara menjadi dua hari demi mengurai kepadatan lalu lintas sekaligus
memperpanjang masa tinggal wisatawan.
Data mobilitas Telkomsel
menunjukkan, dari sekitar 19.000 peserta Pocari Run 2025, 10 persen di
antaranya berasal dari Jakarta Selatan segmen wisatawan dengan daya beli
tinggi, yang mayoritas merupakan perempuan.
“Ini penting karena wisatawan
dengan daya beli tinggi akan menciptakan efek berantai pada ekonomi lokal, dari
hotel, kuliner, hingga ritel,” kata Farhan.
Ia meyakini, geliat pariwisata akan
berdampak langsung pada iklim investasi di Bandung. Menurutnya, keramaian
wisata membentuk tradisi kunjungan yang pada akhirnya menarik minat investor
menanamkan modal di Kota Bandung.
“Pariwisata menciptakan tradisi,
tradisi menciptakan keramaian, dan keramaian melahirkan investasi,” tuturnya.
(kyy/red).