Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Meraba Huruf, Membaca Kalam Ilahi: Perjuangan Fajar Belajar Al-Qur’an Braille

Sabtu, 07 Maret 2026 | 22:36 WIB Last Updated 2026-03-07T15:36:35Z
Klik
Saefudin Fajar Putra (27) untuk belajar membaca Al-Qur’an. Siswa di Sentra Wyata Guna Bandung



BANDUNG, FAKTABANDUNGRAYA,--- Keterbatasan penglihatan tidak menyurutkan semangat Saefudin Fajar Putra (27) untuk belajar membaca Al-Qur’an. Siswa di Sentra Wyata Guna Bandung itu kini mulai mampu membaca Al-Qur’an Braille setelah menjalani proses belajar dengan penuh kesabaran selama beberapa bulan terakhir.

Instruktur Al-Qur’an Braille, Tine Gustini, mengatakan Fajar baru mempelajari Al-Qur’an Braille sekitar empat bulan. Meski pada awalnya belum mengenal huruf sama sekali, ketekunan dan latihan yang konsisten membuat kemampuannya berkembang pesat.

“Alhamdulillah sekarang Fajar sudah bisa baca tulis Al-Qur’an Braille. Tadi juga sudah mencoba membaca salah satu surat pendek,” ujar Tine, Sabtu (7/3/2026).

Menurutnya, proses pembelajaran Al-Qur’an bagi penyandang disabilitas netra pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan metode yang digunakan secara umum. Para siswa tetap memulai dari Iqra, mengenal huruf hijaiyah dan tanda baca, sebelum akhirnya membaca Al-Qur’an Braille.

Namun, pendekatan pembelajaran lebih banyak dilakukan secara individual. Metode ini diterapkan agar pengajar dapat menyesuaikan kemampuan dan perkembangan setiap siswa.

Tine yang telah mengajar Al-Qur’an Braille selama lebih dari 20 tahun mengakui, tantangan terbesar biasanya muncul pada siswa yang baru mengalami kebutaan saat dewasa. Kepekaan jari untuk membaca titik-titik Braille kerap membutuhkan waktu lebih lama untuk dilatih.

Fajar sedang meraba membaca Al-Qur'an


Meski begitu, ia merasa bangga karena banyak alumni Wyata Guna yang kini mampu menjadi pengajar bahkan ustaz bagi sesama penyandang disabilitas netra.

Sementara itu, Fajar mengaku sempat mengalami kesulitan saat pertama kali belajar mengenali huruf-huruf Braille Arab. Namun dengan latihan yang terus dilakukan, ia perlahan mulai memahami pola titik-titik yang membentuk setiap huruf.

Kini Fajar telah mempelajari beberapa bagian dari Al-Qur’an, termasuk dua juz dari Surah Al-Baqarah. Baginya, kemampuan membaca Al-Qur’an menjadi kebahagiaan tersendiri.

“Dulu kalau melihat orang membaca Al-Qur’an rasanya ingin juga bisa. Alhamdulillah sekarang sudah bisa membaca, rasanya sangat senang,” kata Fajar.

Ke depan, ia berharap dapat semakin lancar membaca Al-Qur’an. Bahkan, ia juga memiliki keinginan untuk berbagi ilmu dengan sesama penyandang disabilitas netra. (kyy/red).

 

×
Berita Terbaru Update