Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Komisi II DPRD Kota Bandung Dorong Optimalisasi PAD Lewat Digitalisasi dan Evaluasi Ketat

Kamis, 16 April 2026 | 17:58 WIB Last Updated 2026-04-24T11:02:46Z
Klik
 Komisi II DPRD Kota Bandung menggelar rapat kerja terkait Penggunaan Tapping Box untuk Meningkatkan PAD Kota Bandung, di Gedung DPRD Kota Bandung (foto:humpro).



BANDUNG, FAKTABANDUNGRAYA,--- Komisi II DPRD Kota Bandung mendorong pemerintah kota untuk terus melakukan evaluasi menyeluruh serta mengoptimalkan pengelolaan Pendapatan Asli Daerah (PAD), terutama melalui pemanfaatan teknologi digital dan penguatan pengawasan di lapangan.

Wakil Komisi II DPRD Kota Bandung, Siti Marfuah, menegaskan pentingnya transparansi dalam pengelolaan pendapatan daerah sekaligus peningkatan kesadaran masyarakat dalam memenuhi kewajiban pembayaran. Menurutnya, pemahaman publik terhadap kontribusi yang diberikan perlu terus diperkuat melalui sosialisasi yang masif, termasuk memanfaatkan media sosial.

“Ini perlu terus disosialisasikan agar masyarakat memahami bahwa kontribusi yang diberikan akan kembali dalam bentuk pembangunan dan pelayanan. Selain itu, pengelolaan juga harus terus dievaluasi agar hasilnya lebih maksimal dan optimal,” ujarnya dalam rapat Komisi II terkait penggunaan tapping box untuk meningkatkan PAD, di Gedung DPRD Kota Bandung, Kamis (16/4/2026).

Ia juga menekankan bahwa digitalisasi menjadi salah satu kunci dalam meningkatkan efektivitas pengelolaan pendapatan. Dengan sistem yang terintegrasi dan berbasis teknologi, potensi kebocoran dapat ditekan serta pengawasan menjadi lebih akurat.

Sementara itu, Sekretaris Komisi II DPRD Kota Bandung, Asep Sudrajat, menyoroti pentingnya kejelasan waktu dalam pelaksanaan evaluasi kebijakan. Ia menilai bahwa setiap program harus memiliki indikator yang terukur agar dampaknya terhadap peningkatan PAD dapat diketahui secara pasti.

“Kami ingin ada kejelasan, misalnya dalam jangka waktu dua hingga tiga bulan, evaluasi seperti apa yang dilakukan dan sejauh mana dampaknya terhadap peningkatan PAD,” katanya.

Asep juga mengingatkan bahwa masih terdapat potensi sumber pendapatan lain yang belum tergarap secara optimal, termasuk dari sektor jasa seperti layanan servis kendaraan. Menurutnya, sektor-sektor tersebut memiliki peluang besar untuk meningkatkan penerimaan daerah jika dikelola dengan baik.

Di sisi lain, Anggota Komisi II DPRD Kota Bandung, Sherly Theresia, menilai bahwa penyajian data terkait pengelolaan PAD saat ini masih perlu ditingkatkan. Ia menegaskan bahwa DPRD membutuhkan data yang lebih komprehensif dan analitis, tidak hanya sebatas jumlah objek pajak atau alat yang terpasang.

“Kita tidak hanya butuh data jumlah, tapi juga dampak signifikan dari kebijakan tersebut. Misalnya, berapa persen kenaikan setelah pemasangan, dan kenapa di beberapa sektor justru terjadi penurunan,” ujarnya.

Sherly juga menyoroti adanya ketidaksesuaian antara peningkatan cakupan objek pajak dengan realisasi pendapatan di beberapa sektor. Hal ini, menurutnya, harus menjadi bahan evaluasi bersama antara legislatif dan eksekutif agar kebijakan yang diambil benar-benar efektif.

Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya memaksimalkan potensi yang belum tergarap, seperti masih adanya objek pajak yang belum terintegrasi dalam sistem pengawasan digital. Ia mencontohkan sektor perhotelan yang dinilai masih memiliki celah, dengan sekitar 30 persen objek yang belum terjangkau.

“Kalau dari sebelumnya 50 persen menjadi 70 persen, itu memang ada peningkatan. Tapi kita juga harus melihat dampaknya terhadap penerimaan. Kalau masih ada penurunan, berarti ada masalah yang harus segera diselesaikan,” tegasnya.

Melalui rapat ini, Komisi II DPRD Kota Bandung berharap adanya langkah konkret dari pemerintah kota untuk memperkuat sistem pengelolaan pendapatan daerah yang lebih transparan, akuntabel, dan berbasis teknologi guna mendukung pembangunan yang berkelanjutan. (Rio/red).

×
Berita Terbaru Update