![]() |
| Menaker Yassierli menerima penghargaan dari Rektor Universitas Paramadina Jakarta |
Hal tersebut disampaikan Menaker
saat memberikan orasi ilmiah pada wisuda Program Sarjana dan Magister
Universitas Paramadina di Jakarta, Sabtu (25/4/2026).
Menaker menyebut, ijazah akademik
tidak lagi menjadi satu-satunya penentu dalam memenangkan persaingan kerja.
Perubahan teknologi yang cepat telah menggeser kebutuhan keterampilan di
berbagai sektor.
“Dunia kerja terus berubah. Tantangan terbesar kita saat ini adalah kesenjangan keterampilan digital. Pekerja dengan keterampilan digital baru sekitar 27 persen, masih di bawah standar global,” ujar Yassierli.
Ia mengungkapkan, berdasarkan data
LinkedIn, sekitar 80 persen jenis pekerjaan saat ini tidak ada dua dekade lalu,
dan 50 persen pekerjaan diperkirakan akan tidak relevan dalam 10 tahun ke
depan.
Untuk itu, Menaker memperkenalkan
konsep Triple Readiness. Pertama, Technical Skills Readiness, yakni penguasaan
keterampilan teknis seperti digital skills lanjutan dan kompetensi ekonomi
hijau. Kedua, Human Skills Readiness, meliputi kemampuan berpikir kritis,
kreativitas, kepemimpinan, dan empati sebagai pembeda di era AI. Ketiga, Market
Entry Readiness, yaitu kesiapan memasuki dunia kerja melalui portofolio, pengalaman
magang, dan sertifikasi kompetensi.
![]() |
| Manaker Yassierli selfi dgn para wisudawan Universitas Paramadina Jakarta |
Menaker juga menekankan pentingnya
penguasaan dasar AI. Ia menyebut hampir 70 persen pemimpin bisnis di Indonesia
cenderung tidak merekrut kandidat tanpa kemampuan AI, seiring meningkatnya
kebutuhan tenaga kerja dengan keterampilan tersebut di kawasan Asia Tenggara.
“Industri saat ini mencari
kompetensi nyata, bukan sekadar gelar. Tren menunjukkan peningkatan signifikan
pada lowongan kerja berbasis keterampilan,” tegasnya.
Sebagai dukungan, Kementerian
Ketenagakerjaan terus memperluas akses pelatihan melalui 44 Balai Pelatihan
Vokasi dan Produktivitas (BPVP) di seluruh Indonesia, termasuk program
reskilling dan upskilling bagi tenaga kerja.
Menutup orasinya, Menaker mengajak
para lulusan untuk terus mengembangkan diri dan memiliki pola pikir bertumbuh.
“Jadilah pembelajar sepanjang hayat
yang adaptif terhadap perubahan teknologi dan kebutuhan industri,” pungkasnya.
(*/red).
.jpeg)
.jpeg)