![]() |
| Aksi simpatik keselamatan berlalu lintas di perlintasan Kereta Api (foto:ist) |
Anggota Komisi IV DPRD Jawa Barat,
H. Zulkifly Zhaniago, menyampaikan duka mendalam atas kecelakaan yang
melibatkan Kereta Api Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line pada 27 April
2026. Ia menilai, peristiwa tersebut harus menjadi peringatan serius bagi semua
pihak terkait pentingnya peningkatan keselamatan di perlintasan sebidang.
“Perlintasan sebidang harus
ditangani secara menyeluruh. Pembangunan underpass atau flyover menjadi langkah
nyata untuk mengurangi risiko kecelakaan,” ujarnya di Bandung, Sabtu
(2/5/2026).
Menurut Zulkifly, tingginya
intensitas perjalanan kereta di wilayah Jawa Barat—baik KRL, kereta daerah,
maupun kereta jarak jauh—menjadi faktor yang meningkatkan potensi kecelakaan,
terutama di titik-titik perlintasan yang padat kendaraan.
Ia mengungkapkan, meski sejumlah perlintasan telah dilengkapi palang pintu, masih banyak titik lain yang belum memiliki fasilitas pengamanan memadai. Kondisi ini dinilai berisiko tinggi, terutama di kawasan dengan lalu lintas kendaraan yang padat.
Aksi simpatik keselamatan berlalu lintas di perlintasan Kereta Api ( foto:ist)
Karena itu, DPRD Jabar meminta
pemerintah daerah dan pusat untuk memprioritaskan pembangunan infrastruktur
tidak sebidang di lokasi-lokasi rawan. Selain meningkatkan keselamatan, langkah
ini juga diharapkan dapat mengurangi kemacetan yang kerap terjadi di
perlintasan kereta.
Di sisi lain, Zulkifly juga
mengingatkan masyarakat agar lebih disiplin dalam berlalu lintas, khususnya
saat melintasi rel kereta api. Ia menegaskan pentingnya mematuhi rambu-rambu
serta tidak menerobos palang pintu yang sudah ditutup.
“Keselamatan adalah hal utama.
Jangan mengambil risiko dengan melanggar aturan, karena dampaknya bisa fatal,”
katanya.
DPRD Jabar berharap, kombinasi
antara pembangunan infrastruktur yang lebih aman dan kesadaran masyarakat dapat
menekan angka kecelakaan di perlintasan kereta api di masa mendatang. (syaf/sein)
