![]() |
| Presiden Probowo meresmikan Museum Marsinah dan Rumah Singgah di Nganjuk |
Dalam sambutannya, Presiden Prabowo
menegaskan bahwa museum tersebut didirikan sebagai simbol perjuangan kaum
buruh, khususnya mengenang keberanian Marsinah dalam memperjuangkan hak
pekerja.
“Museum ini didirikan sebagai
lambang, sebagai simbol dan sebagai tonggak peringatan untuk memperingati
keberanian seorang pejuang muda, seorang pejuang perempuan yang berjuang untuk
hak-hak kaum buruh,” ujar Presiden.
Menurut Prabowo, perjuangan
Marsinah tidak hanya mewakili kaum buruh, tetapi juga menjadi simbol perjuangan
masyarakat kecil yang berada dalam posisi lemah secara ekonomi maupun
kekuasaan. Ia menilai tragedi yang menimpa Marsinah semestinya tidak terjadi di
negara yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dan keadilan sosial berdasarkan
Pancasila.
Presiden juga menekankan pentingnya
semangat kekeluargaan dalam kehidupan berbangsa, di mana seluruh elemen
masyarakat memiliki kedudukan yang sama sebagai anak bangsa.
“Buruh adalah anak-anak bangsa,
petani adalah anak-anak bangsa, nelayan adalah anak-anak bangsa. Semuanya,”
katanya.
Prabowo berharap tragedi yang
pernah dialami Marsinah tidak kembali terulang di masa mendatang. Ia juga
mengungkapkan bahwa pendirian Museum Marsinah berawal dari aspirasi kalangan
serikat pekerja yang mengusulkan Marsinah sebagai pahlawan nasional.
Menurut Presiden, para pimpinan serikat pekerja menilai Marsinah layak mendapatkan penghormatan negara atas perjuangannya membela hak-hak kaum buruh.
.jpeg)
Presiden Probowo didampingi Menaker Yassierli pada peresmian Museum Marsinah
Sementara itu, Menteri Ketenagakerjaan
Yassierli mengatakan Museum Marsinah tidak hanya menjadi tempat mengenang
sejarah perjuangan pekerja, tetapi juga berfungsi sebagai ruang edukasi
ketenagakerjaan.
Museum tersebut mendokumentasikan
berbagai arsip perjuangan buruh, mulai dari penetapan upah minimum, hak cuti
hamil, hingga hak berserikat. Selain itu, museum diharapkan menjadi pusat studi
hukum ketenagakerjaan bagi generasi pekerja baru.
“Keberadaan museum ini menjadi
pengingat penting mengenai perlindungan hak asasi pekerja, baik bagi penegak
hukum maupun dunia usaha agar kekerasan terhadap pekerja yang memperjuangkan
haknya tidak kembali terjadi,” kata Yassierli.
Turut hadir dalam peresmian
tersebut antara lain Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan Djamari
Chaniago, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, Menteri Hukum Supratman Andi
Agtas, Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat, Kapolri Listyo Sigit Prabowo,
Panglima TNI Agus Subiyanto, Ketua MPR RI Ahmad Muzani, serta Wakil Menteri
Ketenagakerjaan Afriansyah Noor.
Hadir pula pimpinan konfederasi dan
federasi serikat pekerja, perwakilan International Labour Organization, ATUC,
dan ITUC. (*/red).
.jpeg)