![]() |
| Paris Van Java (PVJ) Mall Bandung siapkan tempat pengelolaan sampah |
General Affairs PVJ, Budi Santosa
mengatakan, sebagian besar sampah yang dihasilkan berasal dari aktivitas tenant
makanan dan minuman yang mendominasi kawasan pusat perbelanjaan tersebut.
“Sekitar 60 persen sampah yang
dihasilkan merupakan organik, sisanya anorganik dan residu. Untuk organik, kami
olah menggunakan sistem maggotisasi dan sejauh ini berjalan dengan baik,” ujar
Budi, Jum’at (8/5/2026).
Menurutnya, dari total timbulan
sampah harian sekitar 3 hingga 4 ton, sebanyak 2 ton di antaranya merupakan
sampah organik yang diolah menggunakan larva Black Soldier Fly (BSF).
Melalui proses tersebut, sampah
organik diurai menjadi kasgot atau pupuk organik yang kemudian dimanfaatkan
untuk kebutuhan perkebunan milik PVJ di kawasan Lembang.
“Setiap hari kami bisa menghasilkan
sekitar 13 sampai 15 kilogram kasgot,” katanya.
Sementara itu, sampah anorganik dikelola
melalui kerja sama dengan pihak ketiga, sedangkan sampah residu yang tidak
dapat diolah tetap dikirim ke tempat pemrosesan akhir (TPA).
Budi menjelaskan, sistem
pengelolaan sampah di PVJ dilakukan secara terintegrasi mulai dari tingkat
tenant. Saat ini terdapat sekitar 350 tenant di kawasan PVJ, dengan sekitar 30
persen di antaranya merupakan tenant makanan dan minuman.
Setiap tenant diwajibkan melakukan
pemilahan sampah organik menggunakan wadah khusus yang telah disediakan.
Petugas kemudian melakukan pengangkutan sampah secara rutin setiap malam.
PVJ juga menerapkan aturan tegas
terhadap tenant yang tidak melakukan pemilahan sampah dengan benar.
“Kalau masih ada sampah yang tidak
terpilah, kami tidak angkut. Bahkan ada denda Rp500 ribu dan dibuatkan berita
acara pelanggaran,” ujarnya.
Menurut Budi, aturan tersebut diterapkan untuk membangun disiplin dan konsistensi pengelolaan sampah di lingkungan pusat perbelanjaan.

Mogot hasil pengelolaan sampah oleh PVJ
Upaya tersebut dinilai memberikan
dampak positif, baik dari sisi lingkungan maupun efisiensi operasional. Sebelum
memiliki sistem pengolahan mandiri, biaya pengelolaan sampah di PVJ mencapai
Rp40 hingga Rp50 juta per bulan.
Namun setelah sistem pengolahan
diterapkan, biaya tersebut berhasil ditekan hingga sekitar Rp20 juta per bulan.
“Selain lebih ramah lingkungan,
pengelolaan sampah mandiri juga jauh lebih efisien secara biaya,” katanya.
Budi menegaskan, PVJ akan terus mempertahankan
konsistensi pengelolaan sampah seiring meningkatnya jumlah pengunjung, terutama
pada akhir pekan.
“Kami setiap hari berjibaku dengan
sampah, apalagi saat weekend volumenya meningkat. Tapi kami akan terus berupaya
memberikan yang terbaik untuk lingkungan,” ujarnya.(rob)
