Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Bukan Sekadar Angka, Kemnaker–JICA Fokus Tingkatkan Kualitas dan Pelindungan Pekerja Indonesia di Jepang

Selasa, 25 Agustus 2026 | 10:03 WIB Last Updated 2026-08-25T03:03:22Z
Klik
Sekjen Kemnaker Cris Kuntadi dalam seminar  JICA-Kemnaker Final Actinity Sharing


 
JAKARTA, FAKTABANDUNGRAYA,--- Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) bersama Japan International Cooperation Agency (JICA) memperkuat komitmen dalam meningkatkan kualitas dan pelindungan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Jepang. Langkah ini berfokus pada pembenahan fasilitas pelatihan, peningkatan kapasitas instruktur, hingga penyelarasan kompetensi yang disesuaikan langsung dengan kebutuhan industri Jepang.

Kesepakatan tersebut ditegaskan dalam seminar JICA–Kemnaker Final Activity Sharing Seminar: "Overview of Kemnaker and JICA Cooperation Framework and Achievements 2023–2026" di Jakarta, Senin (24/8/2026). Forum ini menjadi ajang evaluasi capaian program selama periode 2023–2026 sekaligus merumuskan strategi penyiapan SDM ke depan.

Sekretaris Jenderal Kemnaker, Cris Kuntadi, menyatakan bahwa lonjakan jumlah tenaga kerja Indonesia ke Jepang harus diimbangi dengan kesiapan mental, keterampilan, dan pelindungan hukum yang komprehensif.

“Keberhasilan kerja sama ini tidak boleh hanya diukur dari angka statistik penempatan semata. Yang terpenting adalah menggeser paradigma dari sekadar penempatan tenaga kerja menjadi kemitraan pengembangan SDM yang memberikan pelindungan secara menyeluruh,” ujar Cris.

Terobosan Utama Kerja Sama Kemnaker–JICA (2023–2026):

Seminar  JICA-Kemnaker Final Actinity Sharing


Lonjakan Peserta Program: Jumlah peserta Technical Intern Training Program (TITP) melesat dari 43.145 orang (2022) menjadi 124.967 orang (2025). Sementara program Specified Skilled Worker (SSW) melonjak dari 12.634 menjadi 86.955 pekerja pada periode yang sama.


Modernisasi Fasilitas Pelatihan: Survei kelayakan infrastruktur telah dilakukan di 21 BBPVP/BPVP untuk memastikan standar pelatihan pra-keberangkatan memenuhi kualifikasi industri Jepang.

Penguatan Kompetensi Instruktur: Sebanyak 200 instruktur pelatihan bahasa Jepang dan 48 instruktur balai vokasi melalui program Training of Trainers (ToT) telah ditingkatkan kapasitasnya.

Kurikulum Demand-Driven & Jejaring Wilayah: Menyusun SSW Output Matrix pada 16 bidang pekerjaan serta membangun kerja sama langsung dengan 7 pemerintah prefektur di Jepang (termasuk Miyagi, Ehime, dan Kumamoto).

Literasi Migrasi & Pemberdayaan Alumni: Menyelenggarakan Migrant Literacy Workshop di 9 daerah serta mendokumentasikan 100 studi kasus alumni pemagangan untuk mendampingi alur karier dan peluang wirausaha paska-kembali ke tanah air.

Cris optimistis bahwa kolaborasi berorientasi kualitas ini akan menjadikan sinergi ketenagakerjaan Indonesia–Jepang semakin strategis, terarah, dan memberikan dampak positif jangka panjang bagi kedua negara. (*/red). 

×
Berita Terbaru Update