![]() |
| Menaker Yassierli |
Pendampingan melibatkan sedikitnya
25 spesialis produktivitas terlatih, 20 instruktur, serta 20 peserta pemagangan
nasional. Program tersebut menggunakan pendekatan company-based productivity
improvement yang disesuaikan dengan kebutuhan setiap perusahaan.
Menteri Ketenagakerjaan Yassierli
mengatakan, peningkatan produktivitas tidak cukup hanya dengan meningkatkan
kompetensi pekerja. Perbaikan juga harus menyentuh tata kelola, teknologi,
proses kerja, hingga budaya perusahaan.
“Kompetensi tenaga kerja harus
terhubung dengan produktivitas perusahaan. Ketika kompetensi meningkat, proses
kerja membaik, teknologi dimanfaatkan secara optimal, dan budaya continuous
improvement tumbuh, maka daya saing perusahaan dan perekonomian nasional juga
akan meningkat,” ujar Yassierli melalui siaran pers Biro Humas Kemnaker, Minggu
(23/8/2026).
Program dimulai dengan pengukuran
baseline dan diagnosis produktivitas untuk menemukan akar persoalan.
Selanjutnya, perusahaan didampingi menyusun rencana perbaikan, menerapkannya,
serta melakukan pemantauan dan evaluasi terhadap hasilnya.
Intervensi dapat mencakup efisiensi
proses kerja, pengurangan pemborosan, peningkatan kualitas layanan dan
produksi, tata kelola tempat kerja, optimalisasi sumber daya manusia, hingga
digitalisasi proses.
Menurut Yassierli, keterlibatan
peserta pemagangan nasional juga menjadi bagian penting dari program. Mereka
akan belajar langsung bagaimana produktivitas dibangun dan ditingkatkan melalui
persoalan nyata di lingkungan perusahaan.
“Peserta magang perlu memahami
sejak awal bahwa bekerja bukan sekadar menyelesaikan tugas. Mereka juga harus
belajar bagaimana suatu pekerjaan dapat dilakukan dengan lebih baik, lebih
efisien, lebih berkualitas, dan memberikan nilai tambah yang lebih tinggi,”
katanya.
Kemnaker menilai penguatan
produktivitas semakin penting di tengah perubahan teknologi dan dinamika pasar
kerja menuju Indonesia Emas 2045. Karena itu, produktivitas diharapkan tidak
berhenti sebagai indikator kinerja, tetapi tumbuh menjadi budaya kerja di
perusahaan.
Dari program percontohan ini,
Kemnaker menargetkan lahirnya model pendampingan produktivitas yang sistematis,
terukur, dan dapat diterapkan lebih luas pada perusahaan di berbagai sektor.
(*/red).
