Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Farhan: BRT Bandung Harus Jalan, Meski Pembangunannya Penuh Tantangan

Senin, 14 September 2026 | 20:02 WIB Last Updated 2026-09-14T13:02:20Z
Klik
Wali kota Bandung M.Farhan : Optimis pembangunan BRT jalan terus walaupun banyak tantangan


 
BANDUNG, FAKTABANDUNGRAYA,--- Pembangunan Bus Rapid Transit (BRT) Bandung terus berjalan di tengah kritik dan kekhawatiran masyarakat. Meski mengakui prosesnya tidak mudah, Wali Kota Bandung Muhammad Farhan tetap optimistis sistem transportasi massal tersebut pada akhirnya akan memberi manfaat bagi warga.

Farhan mengatakan BRT merupakan pilihan yang harus dijalankan sebagai bagian dari upaya membenahi sistem transportasi Kota Bandung. Ia mengaku sejak sebelum dilantik telah mempelajari sejumlah jalur yang akan menjadi koridor BRT.

“BRT ini memang pilihan yang harus kita pilih. Dari sejak awal sebelum saya dilantik saya sudah mendapatkan BRT ini dan saya sudah keliling berkali-kali jalur BRT,” ujar Farhan di Balai Kota Bandung, Senin (14/9/2026).

Salah satu persoalan yang paling banyak dipertanyakan adalah pembangunan halte di tengah jalan, antara lain di kawasan Cicadas, Jalan Jakarta, Ciroyom hingga Pasar Baru.

Farhan memahami kekhawatiran warga, terutama terkait keselamatan dan kenyamanan. Namun, ia menegaskan pembangunan halte tersebut tetap menjadi bagian dari desain BRT yang telah disepakati bersama pemerintah pusat dan Pemprov Jawa Barat.

“Kalau pembangunan halte yang di tengah itu tetap akan berlanjut. Itu bagian dari konsep, saya tidak bisa melawan karena bagaimanapun juga itu bagian dari desain BRT,” katanya.

Meski demikian, aspek keselamatan tetap menjadi perhatian. Jika hasil kajian menunjukkan perlunya fasilitas tambahan, Pemkot Bandung akan mendorong pembangunan jembatan penyeberangan orang (JPO).

“Kalau memang ternyata membahayakan maka saya akan paksakan ada JPO di atas itu. Tapi itu sangat tergantung kepada hasil perhitungan nanti,” ujar Farhan.

Angkot Jadi Feeder

Tahap awal BRT akan melayani koridor timur-barat, menghubungkan Kiaracondong, Alun-alun Bandung, Stasiun Selatan, Kebonjati, Otista hingga Tegalega.

Agar jangkauan transportasi publik tidak berhenti di koridor utama, Pemkot Bandung menyiapkan sistem feeder dengan memanfaatkan angkutan kota yang selama ini melayani masyarakat.

Farhan menyebut armada angkot akan diarahkan melalui skema peremajaan agar lebih nyaman dan terintegrasi dengan BRT.

“Feeder ini adalah angkot-angkot yang selama ini kita kenal. Akan ada peremajaan angkot dan mudah-mudahan kita bisa segera mendapatkan kesepakatannya,” tuturnya.

Pemkot juga menunggu realisasi angkutan umum menuju Bandara Husein Sastranegara untuk memperkuat konektivitas antarmoda.

Parkir Jadi Tantangan

Selain halte dan integrasi angkutan, penyediaan fasilitas parkir menjadi tantangan lain. Pemkot Bandung berencana membuka peluang investasi bagi swasta untuk membangun fasilitas parkir di sekitar koridor BRT.

Kawasan Dago, Pasar Baru, Stasiun Hall, Asia Afrika hingga Kiaracondong disebut membutuhkan dukungan parkir yang memadai agar warga dapat meninggalkan kendaraan pribadi dan melanjutkan perjalanan menggunakan transportasi massal.

Farhan mengakui masa pembangunan akan menghadirkan ketidaknyamanan. Namun, ia optimistis pengalaman Kota Medan menunjukkan sistem serupa dapat diterima masyarakat setelah beroperasi.

“Saya sudah tiga kali ke Kota Medan mencoba BRT-nya. Kelihatannya berhasil. Setelah jadi masyarakat lebih nyaman, walaupun saat pembangunannya memang sangat menantang,” ungkapnya.

Farhan menegaskan Pemkot Bandung terbuka terhadap kritik dan masukan masyarakat. Namun, karena BRT merupakan proyek yang melibatkan pemerintah pusat dan provinsi, setiap persoalan harus dibahas secara bersama.

Ia berharap BRT pada akhirnya mampu menghadirkan transportasi publik yang lebih nyaman dan terintegrasi sekaligus membantu mengurangi ketergantungan terhadap kendaraan pribadi dan kemacetan di Kota Bandung. (rob/red).

×
Berita Terbaru Update