| Pansus XV DPRD Jabar saat meninjau RDF Plat Rorotan yang dikelola UPST DLH DKI Jakarta |
Kunjungan tersebut menjadi bagian
dari pendalaman materi Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) tentang
Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (PPLH), khususnya
dalam merumuskan kebijakan pengolahan sampah berbasis teknologi.
Di RDF Rorotan, Pansus mempelajari
proses pengolahan sampah hingga menjadi bahan bakar alternatif untuk industri
semen. Fasilitas tersebut memiliki kapasitas pengolahan hingga 2.500 ton sampah
per hari.
Namun, teknologi bukan satu-satunya
kunci. Pansus juga mencermati sejumlah tantangan, mulai dari tingginya kadar
air dan sampah yang masih tercampur, hingga persoalan residu dan potensi bau.
Anggota Pansus XV DPRD Jabar,
Junaedi, mengatakan pengalaman Rorotan menjadi pelajaran penting agar kebijakan
pengelolaan sampah di Jawa Barat tidak berhenti pada pembangunan fasilitas
pengolahan.
“Keberhasilan pengelolaan sampah
tidak cukup hanya dengan membangun fasilitas pengolahan canggih. Harus ada
pemilahan dari sumber, partisipasi warga, teknologi yang tepat, hingga jaminan
offtaker yang menampung hasil olahannya,” tegas Junaedi.
Menurutnya, pengelolaan sampah harus dibangun sebagai satu ekosistem dari hulu hingga hilir. Pemilahan sejak dari sumber, kesiapan kelembagaan, infrastruktur, pembiayaan, hingga kepastian pasar hasil olahan harus menjadi bagian dari regulasi.
Pansus XV DPRD Jabar saat ditempat RDF Plat Rorotan yang dikelola UPST DLH DKI Jakarta
Junaedi menambahkan, pembelajaran
dari Rorotan akan disesuaikan dengan karakteristik dan kemampuan daerah di Jawa
Barat. Dengan demikian, Ranperda PPLH diharapkan tidak hanya normatif, tetapi
mampu menjadi landasan kebijakan yang realistis, efektif, dan berkelanjutan.
“Pembelajaran dari Rorotan ini akan
kita sesuaikan dengan kondisi dan kemampuan daerah di Jawa Barat,” ujarnya.
Hasil kunjungan tersebut
selanjutnya menjadi bahan Pansus XV dalam mematangkan Ranperda PPLH agar mampu
menjawab persoalan lingkungan sekaligus mendorong pengelolaan sampah yang lebih
terintegrasi dan berkelanjutan di Jawa Barat. (*/red).