Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Puluhan Ribu Orang Desak Pemerintah Hentikan Ekspor Monyet Ekor Panjang

Rabu, 02 September 2026 | 19:48 WIB Last Updated 2026-09-02T12:48:38Z
Klik
Aksi penolakan ekspor moyet ekor panjang pada peringatan Hari Pramita International



JAKARTA/YOGYAKARTA — Desakan agar pemerintah menghentikan ekspor monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) untuk kepentingan penelitian dan pengujian kembali menguat. Bertepatan dengan Hari Primata Internasional, Forum United For Primates menggelar aksi di Jakarta dan Yogyakarta, sekaligus menyerahkan petisi yang telah didukung lebih dari 46.565 orang.

Di Jakarta, perwakilan forum menyampaikan surat resmi dan petisi kepada Kementerian Kehutanan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta Badan Karantina Indonesia. Mereka meminta pemerintah menangguhkan sementara ekspor untuk penelitian dan pengujian toksisitas, sekaligus meninjau kembali kebijakan serta kuota ekspor yang telah diterbitkan.

Forum United For Primates menyerahkan buku didukung 46.565 orang  dan surat kepada Kemenhut

 

Forum juga mendesak pemerintah memastikan tidak ada monyet dari populasi liar yang digunakan untuk memasok fasilitas pembiakan komersial maupun kegiatan ekspor. Selain itu, perlindungan hukum terhadap spesies tersebut dinilai perlu diperkuat, bersamaan dengan pengembangan metode penelitian yang tidak menggunakan hewan.

“Ketika spesies yang sudah berstatus Terancam Punah kembali mendapatkan kuota ekspor, pemerintah perlu mempertanyakan apakah kebijakan ini masih dapat dibenarkan,” kata perwakilan Forum United For Primates, Angelina Pane.

Desakan tersebut muncul setelah Indonesia kembali menetapkan kuota ekspor monyet ekor panjang pada 2026 sebanyak 1.928 individu. Kuota itu menjadi yang pertama setelah terakhir tercatat pada 2022. Kekhawatiran juga meningkat menyusul laporan pembangunan fasilitas pembiakan komersial di Kabupaten Mesuji, Lampung, yang disebut berkapasitas sekitar 4.000 ekor untuk kebutuhan ekspor ke fasilitas penelitian biomedis di luar negeri.

Forum United For Primates menyerahkan buku didukung 46.565 orang  dan surat kepada BRIN


Di Yogyakarta, aksi damai digelar di Titik Nol Kilometer. Kegiatan diisi orasi, edukasi publik, serta pertunjukan pantomim seniman Wanggi Hoed. Dengan mengenakan kostum petugas laboratorium dan berada di dalam kandang berukuran besar, pertunjukan tersebut menggambarkan posisi satwa yang menjadi objek eksperimen sekaligus mengkritik praktik eksploitasi satwa untuk penelitian.

“Semua yang hidup berhak untuk hidup dan berada di habitatnya,” ujar Wanggi.

Monyet ekor panjang saat ini berstatus Endangered (Terancam Punah) dalam Daftar Merah IUCN. Seruan penghentian ekspor juga mendapat dukungan sejumlah figur publik, di antaranya Manohara Odelia, Luna Maya, Richard Kyle, dan Rachel Yosi.

Di tingkat internasional, Asia for Animals Coalition bersama sejumlah organisasi dari berbagai negara turut menyerukan kepada Pemerintah Indonesia agar menangguhkan ekspor monyet ekor panjang untuk kepentingan penelitian dan pengujian toksisitas. (*/red).

Moyet Ekor Panjang asli Primata Indonesia yang di Ekspor


×
Berita Terbaru Update