Ade Afrindi : Pentingnya Big Data Ketenagakerjaan Dalam Mendukung Smart Nakertrans

BANDUNG, Faktabandungraya.com,--- Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Provinsi Jawa Barat, Moch.Ade Afriandi mengungkapkan, permasalahan krusial yang dihadapi Disnakertrans Jabar saat ini adalah masalah data ketenaga kerjaan yang belum valid, kondisi data yang tidak ada, serta data yang berbeda-beda. Sehingga Percuma kita membuat program yang high level, tetapi datanya nol.

Untuk itu, Disnakertrans telah merancang suatu metode Big Data Ketenagakerjaan yang didalamnya menyediakan data dan informasi yang valid bidang ketenagakerjaan di Jabar. Big data ini akan digunakan untuk merumuskan semua kebijakan pemprov Jabar . Sebagaimana amanah gubernur yang menyatakan. No Data No Decission, Bad Data Bad Decission, and Good Data Good Decission. Percuma kita membuat program yang high level, tetapi datanya nol.

Demikian dikatakan Kadisnakertrans Jabar Moch Ade Afriandi dalam acara Jabar Punya Informasi (Japri) #44 yang membahas masalah kondisi umum ketenagakerjaan di Jawa Barat, bertempat di halaman Museum Gedung Sate, Jalan Diponegoro 22 Bandung. Jumat (4/10-2019).

Selain Kadisnakertrans Jabar, M Ade Afriandi, yang menjadi  Narasumber Tim Akselerasi Jabar Juara (TAJJ)Hemasari Dharmabumi  dan Ketua Serikat Pekerja Indonesia/ SPI Jabar Ajad Sudrajad. 

Dikatakan, Disnakertrans Jabar ingin menjadi frontline ketenagakerjaan, namun, kondisi real dilapangan yang dihadapi Disnakertrans Jabar yaitu ketidak validan data, data yang berbeda-beda. Untuk itu, melalui program Smart Nakertrans, Disnakertrans Jabar Jabar mempersiapkan semua stake holder, ketenagakerjaan baik internal maupun eksternal. Hal ini, agar semua paham bagaimana mempersiapkan data yang valid, apapun program kerja kami hasilnya adalah data. Sehingga menjadi Big data yang nantinya akan menjadi panduan kebijakan.

“Selama ini kami mengunakan data BPS, yang sesuai dengan Fungsinya, data BPS hanya menyajikan proyeksi sementara Disnakertran tdak hanya membutuhkan proyeksi data, tetapi data real, yang dilakukan apada tahun ini atau pada tahun lalu.” Ujarnyanya.

Seperti data lulusan SMA atau SMK kemarin, berapa ?apakah mereka bisa ikut dunia kerja atau tidak, berapa yang kerja mandiri, ini juga menjadi permasalahan kami dari awal. Sehingga kami berkolaborasi dengan Disdik.

Semua data yang dimiliki oleh stake holder menjadi Big Data Ketenagakerjaan. Boleh dikatakan apapun yang dihasilkan oleh perangkat daerah atau Dinas lain itu dipastikan terhubung dengan Dinas tenaga kerja.

Sementara mengenai program ketenagakerjaan sendiri, Ade menyebutkan. Ada 2 bisnis Disnakertrans. Pertama tenaga kerja, kedua transmigran. Berbicara tenaga kerja ada dua pertama bagaimana pemprov jabar menghadirkan tenaga kerja yang berdaya saing dan kompetitif, sehingga bisa mengisi semua jenis pekerjaan dan jabatan, apalagi sekarang dengan tuntutan revolusi industri 4.0.

Selain itu, bagaimana pemprov Jabar menjaga harmonisasi dan kondusiftifitas antara dunia industri dan dunia pekerja, antara investasi dengan semua permasalahan yang berkaitan dengan ketenakerjaan.

Kemudian berbicara transmigrasi adalah bagaimana menata kembali permasalahan dan mencari solusi permasalahan transmigrasi yang sudah kurang lebih 20 tahun dihadapi oleh semua stakeholder transmigrasi baik yang ada di Jawa barat sendiri, dikenal sebagai transmigrasi lokal ada 11 kabupaten 21 lokasi. Dan Transmigran asal Jawa barat yang ada diluar provinsi, yang kita sudah evaluasi sebagian masih ada dalam kondisi memperihatinkan.

Dikatakannya juga, berbicara tentang ketenagakerjaan pihaknya sudah mempersiapkan 3 program utama. Pertama Smart Nakertrans. Kedua program Migrant juara, ketiga Millenial juara

Smart Nakertrans terbagi 2 meliputi smart tenaga kerja, dan smart transmigrasi (smart trans). Smart naker bagaimana Dinas tenaga kierja dan Transmigrasi memadukan semua stakeholder ketenagakerjaan, baik yang tugasnya menghadirkan tenaga kerja yang berdaya saing dan kompetitif. Maupun yang bertugas untuk menciptakan harmonisasi dan kondusifitas dalam hubungan industrialis antara dunia pekerja dan dunia Industri.

Sedangkan Smart Trans , bagaimana Pemprov Jabar memberikan kemampuan baik untuk Tansmigrasi lokal maupun untuk Transmigran asal jabar diluar daerah. Untuk mampu mengolah lahan, untuk mampu mengolah hasil dari lahan, serta mampu untuk mengelola pasar dari olahan hasil lahan. Selama ini mereka lebih diarahkan kepada bagaimana memenuhi kebutuhuhan kebutuhan hidup, untuk ditanam kembali dan belum tentu ada untuk dipasarkan. (husein).

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.