Mitigasi Ancaman Bencana, Kepala BNPB Beri Pembekalan Kepada 115 Dandim di Pusdikter

PADALARANG - Kepala BNPB Letjen TNI Doni Monardo menyebut bahwa seorang Dandim (Komandan Kodim) merupakan figur pemimpin sebagai garda terdepan menghadapi ancaman militer maupun nir militer. Menjaga ideologi dari ancaman separatisme, terorisme, dan juga bencana. Hal itu diungkapkan saat memberikan Pembekalan kepada 115 Dandim di Pusdikter Pusterad, Jalan Gadobangkong, Padalarang, KBB, Jumat (1/11/19).

Pembekalan yang disampaikan Doni Monardo, dirinya mengajak peserta penataran Dandim TA 2019 untuk mampu mengantisipasi ancaman dengan cara Kenali Ancamannya, Siapkan Strateginya, serta Ketahui Masalahnya, Carikan Solusi.

Dikatakan Letjen Doni Monardo, untuk menjadi Dandim (pemimpin) yang handal dibutuhkan kemampuan kerjasama dengan semua pihak melalui metode pendekatan kolaborasi Pentahelix. Dengan pemerintah daerah, Badan usaha, Akademisi, Organisasi Kemasyarakatan, serta membangun komunikasi publik dengan media.

"Kemampuan berkomunikasi sangat penting, agar selama bertugas tidak terkungkung oleh kekakuan dengan rutinitas yang ada," ujarnya.

Sebelum melakukan penetrasi komunikasi dengan pihak luar, kata Doni Monardo, hal penting yang harus dilakukan dengan membangun kekuatan komunikasi di internal. "Jangan sampai ada perpecahan, pembinaan itu penting. Terutama transparansi penggunaan dana dan anggaran," ungkapnya.

"Modal dasar seorang pemimpin agar diakui bawahan adalah transparan dalam mengelola anggaran. Jika ini solid, ekspansi untuk komunikasi ke pihak manapun akan mudah dilakukan," terangnya.

"Karena dalam 8 wajib militer dalam poin 8 jelas disebutkan bahwa tni harus menjadi contoh dan mempelopori usaha-usaha mengatasi kesulitan rakyat di sekelilingnya," tegas Doni Monardo.

Hal ini berkorelasi dengan upaya TNI menghadapi ancaman bencana alam yang sewaktu waktu mengancam penduduk di wilayah teritorial di Indonesia. "Momentum ini, saya sampaikan program pencegahan, mitigasi dan program program kebencanaan lainnya," tuturnya.

"Tanpa bantuan dan partisipasi TNI, BNPB tidak bisa banyak berbuat apa apa. Karena penghargaan kepada TNI kita bukan dari pemerintah saja tapi dari bangsa bangsa lain," ujarnya.

Dikatakan sebelumnya, pentingnya kolaborasi pentahelix tak terlepas dari komunikasi yang baik dengan media. "Jadikan media sebagai partner, jadikan media sebagai kawan. Jangan menganggap media itu hanya mencari cari kesalahan. Kalaupun ada tulisan yang mengkritik, jadikan itu sebagai kontrol, supaya tidak melangkah yang menyimpang dari yang seharusnya," kata mantan Pangdam III Siliwangi dan Sesjen Wantannas, sebelum menjabat Kepala BNPB.


"Belajar kepada Kolonel Yusep, tanya apa rahasianya bisa menggandeng media, karena setiap hari ada saja yang memberitakan kegiatannya," celetuknya sambil menunjuk ke arah Kolonel Yusep yang di sesi sebelumnya memberi pembekalan.

Dilanjutkan Doni Monardo, Dandim harus menjadi motor, inspirator, menggerakan masyarakat. "Membangun sistem ketahanan di tengah masyarakat, menyiapkan potensi pertahanan yang kuat. Jangan sampai rakyat apatis tidak peduli, karena kekuatan kita terletak ditangan rakyat," cetusnya.

Dandim sebagai penguasa militer garda terdepan, jangan hanya mengandalkan kegiatan reguler dan biasa saja, itu tidak akan maju. Karena tantangan tugas kita kedepan lebih kompleks.

"Manfaatkan waktu, tenaga, dan pikiran untuk melakukan sesuatu demi kemajuan bangsa," harapnya. (Cuy).

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.