Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Link Banner

Praktek Rentenir Resahkan Warga, Pemkab Bandung Siapkan Strategi Pencegahan

Bupati Bandung, H. Dadang M.Naser
BANDUNG, faktabandungraya.com,--- Memberantas keberadaan rentenir atau bank emok yang dinilai meresahkan masyarakat. Pemerintah Kabupaten Bandung tengah membuat Rancangan Peraturan Daerah (Raperda).

“Kita bersama DPRD sedang membahas mengenai Perda untuk menangani permasalahan pencegahan rentenir, termasuk berkaitan dengan bank emok,” papar Bupati Bandung H Dadang M Naser, Selasa (15/9/2020) lalu.

Selain membuat Perda, untuk mencegah menjamurnya bank emok, kata Dadang Naser, Pemkab Bandung juga telah melakukan tindakan preventif. Yaitu adanya kemudahan pinjaman ke Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Kerta Raharja.

Selain itu, disiapkan pula pinjaman ke Bjb berupa Kredit Mesra (Masyarakat Ekonomi Sejahtera) yang bisa di pusatkan di mesjid mesjid. “Nah tinggal pola pendekatan kerjasama dan manajemennya. Jadi di mesjid boleh melakukan pendekan pinjaman kepada masyarakat yang terdesak,” ucap Dadang.

Namun yang jadi masalah, tutur Dadang, kaitan mental masyarakat atau nasabah yang perlu diperbaiki bila diberi pinjaman bank pemerintah.

“Kalau dikejar kejar bank emok mereka bayar, mereka pinjam sana pinjam sini, kalau ke bank pemerintah susah. Itu yang jadi masalah, apalagi ke Bumdes tidak bayar, ini karena mental. Jadi harus diperbaiki dulu mentalnya," tegas Dadang.

Selain dipersiapkan kemudahan pinjaman ke bank pemerintah, Pemkab Bandung juga memberikan solusi lain. Berupa slogan atau ajakan agar masyarakat tidak tergiur dengan rentenir.

“Ada percontohan dibeberapa tempat, seperti di Desa Mekarsari Pasirjambu, dengan anti rentenir, masyarakat menolak kehadiran bank emok, serta Desa Alam Endah. Saya juga minta di desa desa, tolong bikin spanduk tolak bank emok, tolak kehadiran rentenir,” kata Dadang. 

Dadang mensinyalir, adanya rentenir berwajah koperasi dan rentenir berwajah bank emok. “Ini kita analisa, bunga berbunga rakyat sampai rumahnya disita, kan tidak manusiawi. Itu bahayanya rentenir,” tutur Dadang. (dbs).

Posting Komentar

0 Komentar