Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Link Banner

RSHS Markas Pejuang Memerangi Covid-19: Dari Juliana, Ranca Badak Hingga Hasan Sadikin

#HJKBSeries, #BersamaKitaTangguh
Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung, jadi pusat rujukan dan markas pejuang Covid-19 
SEJAK Covid-19 mewabah di Indonesia, Rumah Sakit Umum Pemerintah Dr. Hasan Sadikin (RSHS) yang terletak di Jalan. Pasteur No.38, Pasteur, Kec. Sukajadi, Kota Bandung merupakan salah satu pusat rujukan Covid-19 di Jawa Barat. Sehingga sangat pas kalau RSHS dikatakan sebagai Markas Pejuang dan garda terdepan dalam memerangi covid-19.

Sebagai rumah sakit rujukan Covid-19, sudah ribuan masyarakat yang terkonfirmasi Covid-19 ditangani oleh Tim Medis RSHS. Namun, ternyata tidak banyak masyarakat mengetahui sejarah keberadaan dan perkembangan RSHS Bandung.

Berdasarkan Situs resmi RSHS Bandung, menyebut, rumah sakit ini dibangun sejak masa penjajahan Belanda, tepatnya tahun 1920 dan diresmikan 15 Oktober 1923 dengan nama "Het Algemene Bandoengsche Ziekenhuis" (Rumah Sakit Umum Bandung).

Empat tahun kemudian, nama ini diubah menjadi "Het Gemeente Ziekenhuijs Juliana" (Rumah Sakit Kota Juliana).

Kapasitas Het Gemeente Ziekenhuijs Juliana di awal berdirinya hanya 300 tempat tidur dan diperkuat enam dokter berkebangsaan Belanda. Satu di antaranya, ahli bedah yang tidak bekerja penuh dan dua dokter berkebangsaan Indonesia, yaitu dr. Tjokro Hadidjojo dan dr. Djundjunan Setiakusumah.

Hingga akhirnya perang Pasifik yang pecah pada 1942 mengubah Het Gemeente Ziekenhuijs Juliana menjadi rumah sakit militer Belanda. Namun tentara Jepang berhasil mengusir Belanda dari Indonesia dan menduduki Pulau Jawa.

Het Gemeente Ziekenhuijs Juliana tetap sebagai rumah sakit militer, namun namanya berubah menjadi “Rigukun Byoin”.

Ketika Indonesia merdeka lewat Proklamasi 17 Agustus 1945, RSHS kembali dikuasai oleh Belanda. Fungsinya masih tetap sebagai rumah sakit militer. Baru pada 1948, fungsi rumah sakit berubah menjadi fasilitas kesehatan untuk umum.

Direktur pertama RSHS adalah orang Belanda, yakni W. J. van Thiel. Ia menjabat sebagai direktur sejak sebelum Jepang menduduki Priangan. Thiel masih memimpin rumah sakit sampai 1949. Selanjutnya, rumah sakit dipimpin Dr Paryono Suriodipuro sampai 1953.

Tidak jelas kapan tepatnya perubahan nama Het Gemeente Ziekenhuijs Juliana atau Rigukun Byoin menjadi Rumah Sakit Ranca Badak. Yang jelas, sebutan itu datang dari masyarakat sendiri.

Sejumlah sumber menyebutkan, setelah Indonesia merdeka, RSHS dikelola oleh pemerintah daerah. Masyarakat menyebut rumah sakit ini dengan nama “Rumah Sakit Rantja Badak“.

Pada 1954, rumah sakit Rumah Sakit Ranca Badak ditetapkan menjadi rumah sakit provinsi dan diawasi langsung Departemen Kesehatan.

Soal nama Ranca Badak, ia diambil dari nama kampung yang menjadi tempat berdirinya rumah sakit, yakni kampung Ranca Badak. Ranca merupakan istilah bahasa Sunda yang berarti rawa. Di Jawa Barat, ada banyak tempat yang namanya memakai istilah ranca.

Pada 1956 Rumah Sakit Ranca Badak dijadikan rumah sakit umum dengan kapasitas 600 tempat tidur. Di saat yang sama, pemerintah mendirikan Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran (FK Unpad).

Rumah Sakit Ranca Badak lalu berfungsi sebagai tempat pendidikan oleh FK Unpad. Hal ini menjadi awal kerja sama antara Rumah Sakit Ranca Badak dan FK Unpad. Perubahan nama rumah sakit kembali terjadi ketika rumah sakit ini dipimpin Dr. Hasan Sadikin yang juga Dekan FK UNPAD.

Selagi menjabat sebagai direktur dan dekan, Hasan Sadikin meninggal dunia (16 Juli 1967). Maka untuk menghormati pengabdian dr. Hasan Sadikin, Rumah Sakit Ranca Badak pun berubah namanya menjadi Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Hasan Sadikin atau RSHS.

Bagi kaum milenial, nama Ranca Badak mungkin terdengar asing. Namun bagi warga Kota Bandung zaman baheula menyebut RSHS dengan sebutan Ranca Badak. (*).

Posting Komentar

0 Komentar