Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Link Banner

Menakar Hasil Pilkada Jabar 2020, Eka Santosa Sebut Faktor Figur Lebih Kuat Daripada Mesin Partai


CIMENYAN, faktabandungraya.com,--- Faktor figur lebih kuat daripada mesin partai pengusung dalam mempengaruhi hasil pemilukada serentak 2020 di 8 wilayah Jawa Barat. 


Hal itu diungkapkan politisi senior dan juga Tokoh Jawa Barat Eka Santosa dalam menakar kekuatan geopolitik di Pilkada serentak 2020 yang digelar tepat Hari ini (Rabu, 9 Desember 2020).

Berdasarkan pengamatan pribadinya, selama ini peta kekuatan politik khususnya di Jawa Barat terbilang unik. Karena partai pemenang di pemilihan legislatif tidak serta merta dapat memenangkan dalam kontestasi pemilihan Kepala Daerah yang dipilih langsung oleh rakyat.

"Keunikan yang menonjol tidak relevannya antara pemenangan legislatif dengan eksekutif," ujarnya, saat ditemui di Alam Wisata Eka Santosa, Pasir Impun, Cimenyan, Kabupaten Bandung, Selasa (8/12/2020).

Sebagai praktisi politik sejak Tahun 1999 dari partai PDIP, dirinya memberikan salahsatu contoh nyata saat pilkada Gubernur Jabar 2018 lalu.

"Sekarang (pemenang legislatif) Gerindra, pada 2014 (pemenangnya) PDI Perjuangan. Tapi Gubernur yang jadi bukan dari kader Gerindra atau PDIP. Itu kekhususan Jawa Barat," ungkapnya.

Selain mempengaruhi tingkat keterpilihan, dirinya juga menyebut bahwa sosok figur juga mampu mendongkrak kebesaran partai politik. Beberapa contohnya, saat tahun 2009 bagaimana melalui sosok SBY yang mampu mendongkrak partai Demokrat, pada Tahun 2014 partai Gerindra menjadi lebih besar efek dari ketokohan Prabowo.

"Jadi antara mesin politik partai dengan integritas ketokohan calon (pemimpin), Jawa Barat memiliki hal yang tidak simetris. Berbeda dengan Jawa Tengah, maaf kalo kita bandingkan dengan Jawa Tengah yang kalo merah ya merah kiri kanannya, Jawa Timur pun hampir begitu," nilainya.

Eka menyebutkan, 8 wilayah di Jawa Barat yang menyelenggarakan Pemilihan Kepala Daerah merupakan representatif kekuatan geopolitik Jawa Barat. Priangan timur diwakili Tasikmalaya dan Pangandaran, Bandung raya diwakili Kabupaten Bandung, Priangan Barat ada Cianjur dan Sukabumi, kemudian Purwasuka ada Karawang, Pantura (Ciayumajakuning) diwakili Indramayu serta wilayah Bodebek ada Depok.

"Saya kira ini melengkapi dari pemetaan tentang konstalasi (politik) Jawa Barat. Delapan wilayah ini secara geopolitik mewakili," katanya.

Apakah pemenang legislatif dari 8 wilayah akan mampu membuktikan dengan hasil Pilkada berdasarkan kekuatan partai pengusung, Eka menilai bahwa ada kebutuhan secara spontan antara mesin partai yang bisa disanding dengan kekuatan integritas Calon.

Fakta paling dekat yakni saat Pilkada 2018 lalu, "PDIP sebagai pemenang legislatif pada tahun 2014, tapi justru suara calon yang diusung PDI Perjuangan di bawah perolehan suara partai," jelasnya.

"Ini menunjukan bahwa (pemenang legislatif dan eksekutif) tidak selalu relevan. Ada kepentingan lokal, kepentingan primordial yang sangat mengikat dengan para pemilih, di samping ada kepentingan-kepentingan partai," imbuhnya.

Prediksi dan Peluang Calon Pemenang Pilkada 2020 Jawa Barat

Jika melihat Tasikmalaya, kata Eka, ini agak unik, susah diprediksi. "Loncatan-loncatan (hasil legislatif) agak aneh (menarik). Ade Sugianto dari PDI Perjuangan bukan partai nomor 2 apalagi nomor 1. Gerindra, PKB dan PPP kuat di situ. Tapi itu tidak bisa dihitung juga, sebab secara kultural di situ tidak berbasis ideologi," tuturnya.

Meskipun begitu, dirinya berkeyakinan Plikada 2020 di 8 wilayah Jabar, potensi kader yang diusung partai besar akan mendominasi hasil perolehan suara pemenang. Misalnya dari Partai Golkar, PDIP, Demokrat, dan Gerindra, "hanya PKS yang saya lihat, hanya menjadi pelengkap, kecuali di Pilkada Depok," ucapnya.

"Yang disayangkan adalah partai PKB ya, sebenarnya kan auranya sedang menanjak, tetapi saya cek dan lihat bukan pelengkap tapi hanya ikut. Tidak menjadikan target bahwa figur-figurnya dijadikan calon dan diunggulkan kecuali di Karawang (Jimmy)," papar pria yang Pemilu lalu tergabung dalam Partai Berkarya.

Untuk di Karawang, "Cellica masih memiliki daya tarik, selain petahana dia masih terlihat agresif dan semangatnya masih tinggi. Dan Jimmy juga bisa menjadi alternatif," kata Eka.

Lalu di wilayah Indramayu, lanjut Eka, ini agak khusus. Sebab ada 3 fenomena. Pertama, Golkar sudah mulai pudar, faktor kehilangan sosok Yance yang sudah meninggal dunia sebagai sosok sentral di sana. Kedua, ada muncul pengganti tokoh yang baru walaupun tidak langsung. "Misalnya kehadiran Ibu Nina yang membawa nama besar Dai Bachtiar yang notabene tokoh Indramayu sebagai (mantan) Kapolri," cetusnya.

Bergeser ke Priangan Timur, "bagaimana kekuatan Ibu Nia yang merupakan genetika Pak Obar, sebagai donking nya Kabupaten Bandung setelah Pak Hatta. Yang begitu masif lalu dilanjutkan dengan menantunya Dadang Naser selama dua periode. Makanya kalo saya istilahkan misalnya undang undangnya membolehkan lima periode kelihatannya Dadang Naser bisa terus tuh," candanya dengan sedikit tertawa.

"Diluar dugaan saya ternyata menghadirkan ibu Nia istrinya, mungkin itu juga sudah diperhitungkan, meskipun ada basa-basi yang menyebutkan tidak menyiapkan itu. Hanya ada hambatan disitu yang memang ada kehadiran tidak solidnya di tubuh, ya maaf ya, di mesin politiknya. Sehingga ada muncul Kang Dadang Supriyatna (dari politisi Golkar juga)," telisiknya.

"Nah, ini apakah buatan atau memang yang sebenarnya?, tapi kalau benturannya juga kuat, bisa tidak tercapai dua-duanya. Akhirnya yang jadi (pemenang) bisa saja yang baru ya yang tampak lugu, yang baru belajar setengah kelas. Ya kita lihat masyarakat saja," tambahnya dalam menilai pilkada Kabupaten Bandung.

Kalau untuk wilayah Pangandaran, lebih lanjut Eka mengatakan, sudah sangat jelas saya kira secara pribadi bukan hanya prediksi tapi juga dapat diukur dari karya nyata Petahana. "Kita bisa melihat sebuah karya beliau (Jeje) yang signifikan. Lebih baik memang dineri kesempatan lagi buat pak Jeje, bukan hanya kepada persoalan partainya tetapi karena dia bisa memberikan jawaban (karya)," ungkap Eka Santosa.

Sebagai salah satu penggagas Kabupaten Pangandaran, Eka menyebut bahwa di bawah kepemimpinan Jeje mampu merealisasikan beberapa hal yang menjadi obsesi pembangunan di Pangandaran. "Misalnya infrastruktur sudah selesai, sarana pendidikan, bahkan sudah meningkat (membangun) universitas, biaya SPP sampai tingkat SMA digratiskan. Ini sudah benar, kita objektif lah ya. Lalu kemudian dari sisi kesehatan puskesmas-puskesmas nya sudah bagus, tidak hanya bpjs, hanya tinggal menunjukan KTP warga Pangandaran saja digratiskan," menurutnya.

Atas dasar tersebut, dirinya meyakini perolehan suara Jeje bisa mengungguli pesaingnya dengan capaian suara mencapai diatas 65 Persen.

Sementara untuk wilayah Cianjur, menurutnya itu bagaimana kompromi politik saja. Karena yang maju sebagai calon bukan dari kader partai politik tapi dari birokrat. Untuk Sukabumi itu sudah mudah ditebak, "Pak Marwan sulit digeser, kecuali ada hal hal khusus yang mungkin bisa menjadi kontra. Sebab beberapa kebijakan yang terjadi hari bukan pekerjaan dia tetapi warisan (kepemimpinan sebelumnya). Seperti kerusakan lingkungannya yang cukup memprihatinkan," nilainya.

Eka Santosa mengatakan bahwa ini hanyalah sebatas ramalan politik terkait fenomena pemetaan kekuatan geopolitik di kewilayahan Jawa Barat berdasarkan analisis secara akademis dan data empiris.

"Ramalan politik kan sah-sah saja, atau memprediksi sebuah peristiwa dan fenomena politik, yang tentu terukur oleh sebuah analisa secara akademis maupun dari data empirik. Dan memang Jawa Barat ini agak unik," pungkasnya. (Cuy)

Posting Komentar

0 Komentar