Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Mendukung Kang Pisman, Kota Bandung Tertarik Pengolahan Sampah Gibrik Mini Banyumas

Rabu, 17 Mei 2023 | 22:17 WIB Last Updated 2023-07-03T15:20:04Z
Klik
Plh Wali kota Bandung Ema Sumarna saat menerima Bupati Banyumas terkait penanganan sampah Gibrik Mini di Balai kota Bandung



BANDUNG, Faktabandungraya.com,-- Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung terus berupaya mengatasi permasalahan sampah, salah satunya melalui program Kang Pisman. Yang dicanangkan oleh Pemkot Bandung beberapa tahun belakangan ini, namun permasalahan sampah belum juga dapat diatasi.

Untuk diketahui bahwa Kang Pisman merupakan singkatan dari Kang (kurangi sampah makanan), Pis (pilah sampah) dan Man (manfaatkan sampah menjadi nilai jual).

Program Kang Pisman masih terus berjalan, namun kini Pemkot Bandung juga tertarik menggunakan Gibrik Mini untuk menangani sampah di Kota Bandung.

Gibrik Mini merupakan alat pengolahan sampah ekonomis tetapi canggih yang cukup sukses mengatasi sampah di Kabupaten Banyumas.

Ketertarikan ini muncul saat Plh Wali Kota Bandung menerima kunjungan Bupati Banyumas, Achmad Husein di Balai Kota Bandung, Rabu 17 Mei 2023.

Pada pertemuan itu, Achmad membeberkan kesukseskan penanganan sampah di wilayah kerjanya.

"Soal pengolahan sampah kita menggunakan Gibrik Mini atau mesin pemilah sampah otomatis," katanya.

Ia mengungkapkan, mesin ini memiliki kapasitas 0,5 ton per jam. Alat tersebut memiliki nilai investasi sekitar  Rp.75 juta. Panjangnya 80 cm, lebar 55 cm.

"Menggunakan panel listrik delta 15hp. Harganya Rp75 juta per unit," tutur Achmad.

Ia menuturkan, mengapa program Kang Pisman yang dimiliki Kota Bandung harus didukung alat tersebut, karena alat minimalis ini memiliki efisiensi pemilahan dan tidak membutuhkan lahan yang luas.

Selain itu, lanjut Achmad, Gibrik Mini dapat meningkatan kualitas daur ulang, optimalisasi pemanfaatan sumber daya juga peningkatan kebersihan dan kesehatan. 

"Nilai investasi Rp75 juta per RW. Adapun keuntungannya, mampu mengurangi dampak lingkungan pada proses pengangkutan, pemanfaatan sampah tingkat lokal dan pemberdayaan ekonomi lokal," tuturnya.

Uniknya alat tersebut, lanjut Achmad mampu memilah sampah organik dan anorganik. Sesuai sistem, alat tersebut mampu memilah berdasarkan berat jenis sampah,  dorongan angin hingga bentuk sampah.

"Jadi mesinnya bisa memilah sendiri. Kita tinggal masukan sampah ke alat itu. Cukup disimpah di lahan yang kecil, alat ini mampu bekerja," ujarnya.

Menanggapi hal itu, Plh Wali Kota Bandung, Ema Sumarna tertarik dengan alat canggih dan sederhana itu.

"Alat ini mampu mereduksi sampah setengah ton per jam. Jadi jika diterapkan di beberapa TPS di Kota Bandung, pengelolaan sampah semakin baik," katanya.

Ema menambahkan, meskipun saat ini masih menggunakan konvensional, sampah dibuang ke TPA, tetapi Pemkot Bandung terus berupaya agar pengelolaan sampah lebih optimal dan selesai di sumbernya. 

"Ini betul-betul optimal, kita manfaatkan betul. Mudah-mudahan di 130 TPS kita tempatkan, tapi lihat dulu kondisi tempatnya," tutur Ema.

Perlu diketahui, Kabupaten Banyumas telah menyatakan bahwa sebagai wilayah yang bebas sampah.

"Mereka mendeklarasikan kawasan zero waste, jadi kami tertarik. Intinya ini harus berkelanjutan sehingga pengelolaan sampah di Kota Bandung lebih optimal," tuturnya.(yan/adv). 

×
Berita Terbaru Update