![]() |
| Wali kota Bandung M FArhan meninjau lokasi banjir di Kel Pasir Endah |
Monitoring dilakukan dengan meninjau
langsung titik-titik rawan banjir, khususnya di sekitar pertemuan aliran Sungai
Cicalobak dan Cipanjalu.
Dari hasil pantauan, banjir di kawasan
tersebut disebabkan oleh tingginya debit air kiriman dari beberapa sungai,
serta kondisi sungai yang dangkal dan belum tertata optimal.
Kepala Bidang Pengendalian Daya Rusak
Air DSDABM Kota Bandung, Dini Dianawati menjelaskan, salah satu solusi yang
tengah disiapkan adalah pemasangan hidro chamber atau rumah pompa berukuran
sekitar 10 x 10 meter.
Hidro chamber ini berfungsi sebagai
tempat pompa air untuk mengalirkan limpasan dari Sungai Cicalobak ke Sungai
Cipanjalu.
“Secara fungsi, hidro chamber ini
adalah rumah pompa yang tidak memerlukan konstruksi besar seperti rumah pompa
konvensional. Pompa akan ditempatkan di bagian bawah untuk memompa air dari
saluran yang meluap agar tidak menggenangi kawasan permukiman,” jelas Dini.
Ia berharap, pemasangan hidro chamber
dapat mengurangi genangan air di area Komplek Sukup, terutama saat debit air
sungai meningkat akibat hujan deras dan kiriman air dari wilayah hulu.
Dalam dialog bersama warga dan petugas
lapangan terungkap, banjir di kawasan tersebut kerap terjadi akibat pertemuan
arus dua sungai dengan debit besar, sementara kondisi sungai di bawah jembatan
masih dangkal.
Warga mengusulkan pendalaman dan
pelurusan sungai serta pembangunan tanggul agar aliran air tidak saling
berbenturan.
Menanggapi hal tersebut, Wali Kota
Bandung Muhammad Farhan mengatakan, Pemkot Bandung serius mencari solusi jangka
pendek dan jangka panjang.
Namun demikian, ia mengakui sebagian
penanganan membutuhkan koordinasi lintas kewenangan, termasuk dengan Pemerintah
Provinsi Jawa Barat dan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS).
“Untuk beberapa usulan, seperti
sodetan sungai dan pembangunan tanggul skala besar, itu membutuhkan rekomendasi
teknis dan perizinan dari BBWS serta koordinasi dengan provinsi dan pemerintah
pusat. Proses administrasinya memang tidak singkat,” ujar Farhan.
Meski demikian, Farhan menyebut Pemkot
Bandung telah memiliki langkah konkret yang bisa diprioritaskan pada tahun
2026, seperti pengadaan pintu air dan optimalisasi pompa yang sudah ada. Ia
berharap solusi teknis ini dapat segera direalisasikan setelah Lebaran.
“Targetnya, setelah Lebaran bisa mulai
berjalan. Desain diperkirakan sekitar satu bulan, lalu dilanjutkan pelaksanaan.
Mudah-mudahan ini bisa mengurangi risiko banjir yang selama ini terjadi hampir
setiap tahun,” katanya.
Pemkot Bandung memastikan akan terus
melakukan pendampingan dan koordinasi intensif dengan berbagai pihak agar
penanganan banjir di Komplek Sukup dapat berjalan efektif dan memberikan rasa
aman bagi masyarakat sekitar. (rob/red).
