![]() |
| Walikota Andung M Farhan dalam seminar Kebebasan Finansial melalui Entrepreneuship dan Bisnis di IKA Unpad Bandung |
Farhan menyampaikan bahwa kebebasan
finansial tidak dapat dicapai secara instan tanpa pemahaman yang memadai
mengenai pengelolaan keuangan, perencanaan jangka panjang, serta pemilihan
instrumen investasi yang tepat.
“Kebebasan finansial tidak didapatkan
dengan cara yang bebas. Kebebasan finansial harus diawali dengan literasi
finansial yang kuat. Tanpa itu, seluruh upaya ekonomi tidak akan memberikan
manfaat yang berkelanjutan,” ujar Farhan.
Ia mendorong para profesional dan
pelaku usaha untuk sejak dini menyiapkan strategi keuangan pasca-masa
produktif, baik melalui pengembangan kewirausahaan maupun pengelolaan
portofolio investasi yang sesuai dengan profil risiko masing-masing.
Menurut Farhan, kemampuan mengelola
tabungan dan aset menjadi kunci agar pendapatan tidak habis dalam jangka pendek,
sekaligus mampu menciptakan warisan finansial bagi generasi selanjutnya. Hal
ini penting mengingat produktivitas individu memiliki batas waktu.
“Produktivitas tidak berlangsung
selamanya. Karena itu, diperlukan strategi ekonomi agar seseorang tetap
memiliki sumber penghidupan yang berkelanjutan,” katanya.
Dalam konteks kebijakan pemerintah
daerah, Farhan juga memaparkan bahwa tingkat kemiskinan di Kota Bandung
menunjukkan tren penurunan. Pada semester pertama tahun 2025, angka kemiskinan
tercatat sebesar 3,78 persen atau sekitar 99 ribu jiwa. Meski demikian, ia
mengingatkan bahwa garis kemiskinan mengalami kenaikan seiring meningkatnya
biaya hidup.
“Untuk dikategorikan miskin, pendapatan minimum saat ini sekitar Rp644.000 per bulan. Artinya, daya beli harian masyarakat berada di kisaran Rp35.000,” jelasnya.
Farhan menilai, kondisi tersebut
menjadikan edukasi literasi keuangan semakin relevan, terutama di tengah
tantangan menurunnya daya beli, meningkatnya risiko kelumpuhan finansial
individu, serta perubahan struktur ketenagakerjaan yang ditandai dengan dominasi
sektor informal dan gig worker.
Ia menambahkan, penguatan kelas
menengah menjadi agenda penting pemerintah daerah karena berperan besar dalam
menjaga stabilitas ekonomi dan pertumbuhan konsumsi.
“Kelas menengah harus kuat secara
finansial. Kunci kekuatan tersebut adalah kebebasan finansial yang dibangun
melalui literasi, perencanaan, dan akses terhadap produk keuangan yang sehat,”
tuturnya.
Sementara itu, kehadiran perwakilan
sektor perbankan dan industri jasa keuangan dalam seminar tersebut mencerminkan
pentingnya kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dan lembaga keuangan
dalam mendorong inklusi serta literasi keuangan masyarakat. Farhan berharap
forum ini dapat menghasilkan rekomendasi kebijakan yang dapat dimanfaatkan oleh
Pemerintah Kota Bandung, termasuk sebagai bahan edukasi bagi aparatur sipil
negara yang memasuki masa pensiun.
Seminar tersebut dihadiri Menteri
Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi RI Rini Widyantini, Ketua
Dewan Pembina IKA Unpad Burhanuddin Abdullah, Ketua Dewan Penasihat IKA Unpad
Omay K. Wiratmaja, pimpinan Universitas Padjadjaran, serta sejumlah pemangku
kepentingan dari sektor perbankan dan jasa keuangan nasional.
Turut hadir Wakil Menteri
Ketenagakerjaan RI Afriansyah Noor, jajaran direksi PT Taspen, PT Bank Negara
Indonesia (BNI), PT Samuel Aset Manajemen, serta perwakilan alumni dan
akademisi Universitas Padjadjaran. Seminar Kebebasan Finansial Melalui
Entrepreneurship dan Bisnis juga dapat disaksikan kembali melalui kanal YouTube
resmi IKA Unpad. (ray/red).

