Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Rizal Khairul: Pendidikan Jadi Mesin Penggerak Birokrasi Menuju Indonesia Emas 2045

Sabtu, 07 Februari 2026 | 23:04 WIB Last Updated 2026-02-07T16:04:22Z
Klik
Wakil Ketua Komisi IV DPRD Kota Bandung H. Rizal Khairul, S.IP., M.Si., saat menjadi narasumber Kuliah Bareng Birokrat Kota Bandung, di Auditorium K.H. Ahmad Dahlan UMB, Sabtu, 31 Januari 2026. (Foto: Humpro)


 
BANDUNG, FAKTABANDUNGARAYA,--- Wakil Ketua Komisi IV DPRD Kota Bandung H. Rizal Khairul, S.IP., M.Si. menegaskan bahwa sektor pendidikan memegang peranan kunci dalam mewujudkan visi Indonesia Emas 2045. Pendidikan tidak hanya berfungsi sebagai sarana peningkatan kualitas sumber daya manusia, tetapi juga menjadi instrumen strategis penggerak tata kelola pemerintahan yang berkelanjutan.

Hal tersebut disampaikan Rizal Khairul saat menjadi narasumber dalam kegiatan Kuliah Bareng Birokrat (KBB) Kota Bandung yang diselenggarakan Program Studi Administrasi Publik Universitas Muhammadiyah Bandung (UMB), di Auditorium K.H. Ahmad Dahlan UMB, Sabtu (31/1/2026).

Menurut Rizal, investasi anggaran di sektor pendidikan merupakan langkah cerdas untuk menyiapkan masa depan bangsa. Ia mencontohkan kebijakan alokasi 20 persen anggaran pendidikan yang dinilai telah memberikan dampak positif terhadap peningkatan kualitas pendidikan sekaligus jumlah lulusan.

“Investasi cerdas itu adalah mengalirkan anggaran pendidikan untuk masa depan Indonesia. Dampaknya bisa dirasakan dari meningkatnya kualitas pendidikan dan jumlah lulusan yang dihasilkan,” ujarnya di hadapan mahasiswa dan tenaga pengajar yang hadir.

Dalam pemaparannya, Rizal menjelaskan bahwa visi Indonesia Emas 2045 merupakan janji sekaligus tantangan strategis untuk mencapai kesejahteraan, keadilan, dan tingkat inovasi yang tinggi pada peringatan 100 tahun kemerdekaan Republik Indonesia. Untuk itu, diperlukan transformasi birokrasi yang adaptif dan inklusif.

Ia menilai, birokrasi Indonesia saat ini masih dihadapkan pada sejumlah tantangan, seperti struktur yang kaku, kurang responsif terhadap dinamika tuntutan masyarakat, serta aparatur sipil negara (ASN) yang belum sepenuhnya adaptif terhadap inovasi. Padahal, sekitar 60 persen ASN saat ini berasal dari generasi milenial dan generasi Z.

“Kebutuhan birokrasi ke depan harus selalu adaptif dan inovatif. Dibutuhkan perubahan pola pikir dan pola kerja, solusi kreatif dari generasi muda, serta pemerintahan yang transparan dan responsif,” tegasnya.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Rizal menekankan pentingnya menciptakan lingkungan kerja birokrasi yang menarik dan memberdayakan. Hal ini dapat dilakukan dengan melibatkan pegawai muda dalam proses pengambilan keputusan, mempercepat adopsi teknologi, serta menerapkan strategi rekrutmen yang tepat.

“Menuju Indonesia Emas 2045 mendorong birokrasi yang lebih responsif dan inklusif demi terwujudnya tata kelola pemerintahan yang baik di era modern. Di sinilah pendidikan menjadi mesin penggerak utama pemerintahan berkelanjutan,” katanya.

Rizal juga menyoroti perlunya strategi implementasi kebijakan pendidikan yang efektif, melalui sinkronisasi kebijakan pusat dan daerah, penyamaan persepsi, penguatan pemahaman teknis, serta dukungan penuh terhadap peran guru.

Selain itu, ia mendorong upaya pemutusan kesenjangan kualitas pendidikan antarwilayah melalui pendanaan inovatif, adaptasi kurikulum berbasis kearifan lokal, serta penguatan partisipasi masyarakat berbasis nilai.

“Yang tidak kalah penting adalah membangun kolaborasi multipihak antara pemerintah, swasta, dan masyarakat. Kolaborasi ini diperlukan agar pengelolaan sumber daya dalam implementasi kebijakan dapat berjalan efektif. Saya berharap energi mahasiswa hari ini kelak benar-benar bermanfaat bagi rakyat dan dibutuhkan oleh pemerintah,” tuturnya.

Kegiatan tersebut turut menghadirkan sejumlah narasumber lainnya, di antaranya dosen Universitas Pendidikan Indonesia Tasikmalaya Risbon Sianturi, Sekretaris DPC Partai Demokrat Kota Bandung Dr. Rini Ayu Susanti, serta Founder Prisma Muda dan Duta Bava Jawa Barat Alfath Fadillah Ridwannur. Hadir pula Sekretaris Program Studi Administrasi Publik UMB Yayan Andri dan dosen pengampu mata kuliah Birokrasi dan Governansi Publik Fatmawati. (*/red).

×
Berita Terbaru Update