![]() |
| Pemilihan dan pengelolaan sampah menjadi barang bernilai ekonomis |
Melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH),
sejumlah program strategis digulirkan untuk menekan volume sampah, terutama
sampah organik. Salah satu program unggulan yang kini menunjukkan hasil
signifikan adalah Gerakan Sampah Kelar di Wilayah (Gaslah).
Kepala DLH Kota Bandung, Darto,
mengungkapkan bahwa sejak diluncurkan pada akhir Januari 2026, program Gaslah
mampu melampaui target pengolahan sampah harian.
“Target awal 40 ton per hari, namun
capaian terbaru sudah mencapai 62 ton. Rata-rata harian berada di kisaran 45
hingga 62 ton,” ujarnya, Selasa (28/4/2026).
Menurutnya, capaian tersebut
menjadi indikasi bahwa pengolahan sampah organik mulai berjalan efektif dan
mampu mengurangi beban sampah kota secara bertahap.
Selain Gaslah, Pemkot Bandung juga
menjalankan program Sasapu yang rutin digelar setiap Minggu subuh. Kegiatan ini
difokuskan pada pembersihan titik-titik strategis sebagai langkah preventif
menjaga kebersihan lingkungan.
Di sisi lain, pembangunan kompos
pit atau lubang kompos juga terus diperluas. Hingga kini, tercatat sebanyak
1.473 unit kompos pit telah tersedia dengan potensi penyerapan hingga 60 ton
sampah organik per hari.
Meski berbagai upaya telah dilakukan, tantangan penanganan sampah masih cukup besar. Salah satunya adalah rencana penutupan TPA Sarimukti pada 1 Agustus mendatang.

Pemulung sedang memiliha sampah yang dapat diolah
Saat ini, volume sampah Kota
Bandung yang dikirim ke TPA Sarimukti masih berada di kisaran 1.100 ton per
hari, meski pengiriman tidak dilakukan setiap hari.
Darto menegaskan, kondisi tersebut
menjadi perhatian serius bagi pemerintah kota agar tidak menimbulkan persoalan
baru setelah penutupan TPA.
“Kita harus bersiap. Penutupan
Sarimukti ini menjadi perhatian serius. Jangan sampai menimbulkan persoalan
yang lebih besar,” katanya.
Ke depan, Pemkot Bandung
berkomitmen untuk terus menekan ketergantungan terhadap TPA dengan memperkuat
pengolahan sampah di tingkat sumber serta meningkatkan partisipasi masyarakat
dalam memilah sampah.
Ia menekankan, keberhasilan
penanganan sampah tidak hanya bergantung pada pemerintah, tetapi juga
membutuhkan keterlibatan aktif seluruh pemangku kepentingan dan masyarakat.
“Persoalan sampah ini tidak bisa
diselesaikan sendiri oleh pemerintah. Perlu kolaborasi semua pihak, termasuk
masyarakat dalam memilah dan mengelola sampah,” pungkasnya. (kyy/red).
