![]() |
| Wali kota Bandung M.Farhan jadi pembicara dlm panel AI Government & Public Services di ajang AIIF |
Farhan mengingatkan jajaran
pemerintah agar tidak terjebak fenomena Fear of Missing Out (FOMO) sekadar
mengikuti tren digital tanpa memperhitungkan aspek hukum, kesiapan sistem
pendukung (back-end), hingga dampak riil bagi masyarakat.
"Harus hati-hati sekali dalam
dunia digital, jangan sampai terbawa FOMO. Pemerintah harus memastikan kesiapan
administratif terlebih dahulu untuk menutup celah hukum sebelum teknologi
digunakan secara masif," ujar Farhan.
Ia mencontohkan penggunaan kamera
CCTV 4K bermotor face recognition yang kurang optimal akibat belum siapnya
regulasi kewenangan penyidikan serta mekanisme perlindungan data pribadi.
Sebagai langkah konkret, Pemkot
Bandung mengedepankan integrasi satu data kewilayahan melalui penyeragaman 58
indikator dari 1.597 RW yang diverifikasi langsung bersama Badan Pusat
Statistik (BPS) Kota Bandung.
Empat pilar strategi pengolahan
data dan teknologi Pemkot Bandung meliputi:
Pemanfaatan AI Recommendation:
Menjadikan data terintegrasi sebagai fondasi pembuatan instrumen kecerdasan
buatan untuk membantu proses pengambilan keputusan publik.
![]() |
| Farhan bersama narasumber pada acara AIIF |
Pendekatan Prototyping:
Mengembangkan aplikasi uji coba seperti Teh Eva (Electronic Validation
Application) skala beta guna menguji kelayakan inovasi dengan biaya efisien
sebelum dirilis secara luas.
Penguatan Tata Kelola Hukum:
Memastikan kesiapan regulasi lintas lembaga agar penerapan teknologi baru tidak
membentur koridor kewenangan pemerintah daerah.
Melalui pendekatan ini, Farhan
optimistis transformasi digital Kota Bandung dapat berjalan tepat sasaran,
terukur, dan memberikan manfaat nyata yang dirasakan langsung oleh warga.
(ray/red).

.jpeg)