Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Menaker Yassierli: Pekerja Kompeten Jadi Fondasi Industrialisasi Indonesia

Senin, 17 Agustus 2026 | 18:03 WIB Last Updated 2026-08-17T11:03:55Z
Klik
Menaker Yassierli pimpin upacara HUT ke-81 RI di Kemnaker RI


JAKARTA, FAKTABANDUNGRAYA,--- Indonesia membutuhkan pekerja yang kompeten untuk memastikan agenda industrialisasi, hilirisasi, serta kemandirian ekonomi berjalan dan menghasilkan nilai tambah di dalam negeri.

Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli menegaskan, kekuatan industri nasional tidak cukup hanya ditopang investasi dan teknologi. Ketersediaan sumber daya manusia yang memiliki keterampilan sesuai kebutuhan industri menjadi faktor penentu.

Hal itu disampaikan Yassierli saat memimpin upacara HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Plaza Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker), Jakarta, Senin (17/8/2026).

“Tidak ada hilirisasi tanpa manusia yang mampu mengerjakannya, tidak ada industrialisasi tanpa pekerja yang kompeten, dan tidak ada kemandirian ekonomi tanpa kekuatan tenaga kerja Indonesia,” tegas Yassierli.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Kemnaker memusatkan kebijakan ketenagakerjaan pada empat agenda utama, yakni membangun pekerja kompeten dan siap menghadapi perubahan, menciptakan pasar kerja yang adaptif, memperluas dunia kerja yang inklusif, serta memperkuat hubungan industrial yang harmonis.

Penguatan kompetensi dilakukan melalui pelatihan vokasi, pemagangan, sertifikasi, dan kolaborasi dengan dunia usaha serta industri. Kurikulum dan pelatihan juga diarahkan agar mampu mengikuti perkembangan digitalisasi, kecerdasan artifisial (AI), otomasi, transisi energi, serta munculnya sektor-sektor industri baru.

“Kita harus semakin mampu membaca perubahan kebutuhan industri agar sistem pelatihan kita tidak selalu datang terlambat. Sebab pada akhirnya, kedaulatan industri membutuhkan kedaulatan kompetensi,” katanya.

Menaker Yassierli bersama karyawan Kemnakaer usai upacara HUT ke-81 RI

Di sisi pasar kerja, Kemnaker memperkuat layanan informasi, pencocokan kerja, pemagangan, serta program reskilling dan upskilling. Berdasarkan Sakernas Mei 2026, sekitar 148 juta penduduk Indonesia telah bekerja dengan Tingkat Pengangguran Terbuka sebesar 4,65 persen.

Menurut Yassierli, pasar kerja harus mampu mempertemukan pencari kerja dengan pekerjaan yang membutuhkan kompetensinya secara lebih cepat dan tepat.

“Pasar kerja harus mampu mempertemukan orang yang membutuhkan pekerjaan dengan pekerjaan yang membutuhkan kompetensi mereka, secara lebih cepat dan tepat,” ujarnya.

Yassierli menekankan, keberhasilan pembangunan industri pada akhirnya harus dirasakan pekerja melalui peningkatan produktivitas, daya saing, dan kesejahteraan.

“Tugas kita adalah membuat perjalanan mereka menjadi lebih baik: dari belajar menjadi kompeten, dari kompeten memperoleh pekerjaan, dari bekerja menjadi semakin produktif, dan dari produktivitas memperoleh kehidupan yang semakin sejahtera,” pungkasnya. (*/red).

×
Berita Terbaru Update