![]() |
| Sukamiskin bangun ekosistem pengelolaan sampah |
Lurah Sukamiskin Sofian Ismail
mengatakan, sekitar 500 rumah tangga telah mendapat edukasi pemilahan sampah.
Dari jumlah tersebut, sekitar 250 rumah tangga mulai memilah dan mengolah
sampah secara mandiri.
“Target kita 100 persen melakukan
pemilahan dari sumber. Minimal 50 persen rumah tangga sudah memilah dan
mengolah sampah sendiri di rumah,” ujar Sofian.
Sampah organik diolah melalui
budidaya maggot dan komposter. Pengolahan maggot saat ini mampu menyerap
sekitar 400 hingga 500 kilogram sampah per hari dan ditargetkan meningkat
menjadi satu ton.
Upaya tersebut diperkuat fasilitas
komposter di 17 RW. Setiap RW minimal memiliki dua unit, sementara beberapa RW
telah memiliki hingga lima unit pengolahan.
Untuk sampah nonorganik, Sukamiskin
mengembangkan peyeumisasi sampah yang didukung enam unit mesin. Sampah
dikeringkan, digiling, dicampur perekat, lalu dicetak menjadi briket. Jika
seluruh fasilitas beroperasi optimal, kapasitas pengolahannya diproyeksikan
mencapai enam ton per hari.
RW 13 bahkan telah menyiapkan lahan
sekitar 200 meter persegi untuk pengembangan produksi briket. Area tersebut
akan digunakan untuk mesin produksi, penjemuran dan penyimpanan. Briket yang
dihasilkan diarahkan untuk kebutuhan sejumlah sektor industri.
Sukamiskin juga bekerja sama dengan
Universitas Islam Bandung (Unisba) dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat melalui
teknologi plasma dingin. Fasilitas tersebut sebelumnya mampu mengolah sekitar
1,5 ton sampah nonorganik per hari, namun sementara belum beroperasi karena
menunggu komponen pengganti dari luar negeri.
Dengan timbulan sampah sekitar 4
hingga 6 ton per hari, saat ini sekitar 30 persen masih harus dibawa ke TPS.
Artinya, sebagian besar sampah telah diarahkan untuk ditangani melalui berbagai
fasilitas pengolahan di tingkat kelurahan dan RW.
Pengelolaan dari sumber juga
dibantu sekitar 17 Petugas Pemilah dan Pengolah Sampah (Gaslah). Mereka
bertugas membantu pemilahan sekaligus memastikan sampah organik dan nonorganik
masuk ke jalur pengolahan yang tepat.
Yang menarik, pengelolaan sampah di Sukamiskin tidak berhenti pada persoalan lingkungan. Kasgot dari budidaya maggot dimanfaatkan sebagai pupuk untuk kebun pangan yang ditanami bayam, pakcoy, kangkung hingga ubi ungu.

Sampah ditimbun dalam lobang dijadikan kompos
Ekosistem tersebut terhubung dengan
peternakan ayam petelur yang menghasilkan sekitar 60 hingga 90 butir telur
setiap hari. Hasilnya dimanfaatkan untuk membantu pemenuhan gizi ibu hamil dan
balita, terutama warga yang mengalami kekurangan berat badan.
Sofian menyebut pola tersebut
merupakan bagian dari Sirkulir Program Karasa (Sirkuler Bandung Utama), yang
menghubungkan pengelolaan sampah dengan pertanian, pangan dan manfaat sosial.
“Ekosistem ini menjadi kebanggaan
Sukamiskin. Kita memiliki lahan yang cukup luas sehingga masih bisa
dikembangkan,” katanya.
Dari sekitar 3.000 meter persegi
lahan yang tersedia, baru sekitar 800 meter persegi yang digunakan untuk
bangunan. Ke depan, Sukamiskin ditargetkan menjadi laboratorium pengelolaan
sampah bagi masyarakat maupun daerah lain yang ingin belajar dan melakukan
studi tiru.
Jika peyeumisasi dan teknologi
plasma dingin kembali beroperasi optimal, kapasitas pengolahan Sukamiskin
diproyeksikan mampu melampaui timbulan sampah warganya. Bukan hanya mengurangi
beban TPS, sampah di Sukamiskin mulai diarahkan menjadi sumber daya yang
menghasilkan manfaat ekonomi, pangan dan sosial bagi masyarakat. (*/red).
.jpeg)