Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Sukamiskin Bangun Ekosistem Pengelolaan Sampah, 70 Persen Timbulan Tak Lagi ke TPS

Rabu, 19 Agustus 2026 | 00:01 WIB Last Updated 2026-08-18T17:01:05Z
Klik
Sukamiskin bangun ekosistem pengelolaan sampah


BANDUNG, FAKTABANDUNGRAYA — Kelurahan Sukamiskin, Kecamatan Arcamanik, Kota Bandung, membangun ekosistem pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Dari rumah warga hingga fasilitas kelurahan, sampah dipilah, diolah, dan sebagian diubah menjadi produk yang kembali memberi manfaat.

Lurah Sukamiskin Sofian Ismail mengatakan, sekitar 500 rumah tangga telah mendapat edukasi pemilahan sampah. Dari jumlah tersebut, sekitar 250 rumah tangga mulai memilah dan mengolah sampah secara mandiri.

“Target kita 100 persen melakukan pemilahan dari sumber. Minimal 50 persen rumah tangga sudah memilah dan mengolah sampah sendiri di rumah,” ujar Sofian.

Sampah organik diolah melalui budidaya maggot dan komposter. Pengolahan maggot saat ini mampu menyerap sekitar 400 hingga 500 kilogram sampah per hari dan ditargetkan meningkat menjadi satu ton.

Upaya tersebut diperkuat fasilitas komposter di 17 RW. Setiap RW minimal memiliki dua unit, sementara beberapa RW telah memiliki hingga lima unit pengolahan.

Untuk sampah nonorganik, Sukamiskin mengembangkan peyeumisasi sampah yang didukung enam unit mesin. Sampah dikeringkan, digiling, dicampur perekat, lalu dicetak menjadi briket. Jika seluruh fasilitas beroperasi optimal, kapasitas pengolahannya diproyeksikan mencapai enam ton per hari.

RW 13 bahkan telah menyiapkan lahan sekitar 200 meter persegi untuk pengembangan produksi briket. Area tersebut akan digunakan untuk mesin produksi, penjemuran dan penyimpanan. Briket yang dihasilkan diarahkan untuk kebutuhan sejumlah sektor industri.

Sukamiskin juga bekerja sama dengan Universitas Islam Bandung (Unisba) dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat melalui teknologi plasma dingin. Fasilitas tersebut sebelumnya mampu mengolah sekitar 1,5 ton sampah nonorganik per hari, namun sementara belum beroperasi karena menunggu komponen pengganti dari luar negeri.

Dengan timbulan sampah sekitar 4 hingga 6 ton per hari, saat ini sekitar 30 persen masih harus dibawa ke TPS. Artinya, sebagian besar sampah telah diarahkan untuk ditangani melalui berbagai fasilitas pengolahan di tingkat kelurahan dan RW.

Pengelolaan dari sumber juga dibantu sekitar 17 Petugas Pemilah dan Pengolah Sampah (Gaslah). Mereka bertugas membantu pemilahan sekaligus memastikan sampah organik dan nonorganik masuk ke jalur pengolahan yang tepat.

Yang menarik, pengelolaan sampah di Sukamiskin tidak berhenti pada persoalan lingkungan. Kasgot dari budidaya maggot dimanfaatkan sebagai pupuk untuk kebun pangan yang ditanami bayam, pakcoy, kangkung hingga ubi ungu.

Sampah ditimbun dalam lobang dijadikan kompos


Ekosistem tersebut terhubung dengan peternakan ayam petelur yang menghasilkan sekitar 60 hingga 90 butir telur setiap hari. Hasilnya dimanfaatkan untuk membantu pemenuhan gizi ibu hamil dan balita, terutama warga yang mengalami kekurangan berat badan.

Sofian menyebut pola tersebut merupakan bagian dari Sirkulir Program Karasa (Sirkuler Bandung Utama), yang menghubungkan pengelolaan sampah dengan pertanian, pangan dan manfaat sosial.

“Ekosistem ini menjadi kebanggaan Sukamiskin. Kita memiliki lahan yang cukup luas sehingga masih bisa dikembangkan,” katanya.

Dari sekitar 3.000 meter persegi lahan yang tersedia, baru sekitar 800 meter persegi yang digunakan untuk bangunan. Ke depan, Sukamiskin ditargetkan menjadi laboratorium pengelolaan sampah bagi masyarakat maupun daerah lain yang ingin belajar dan melakukan studi tiru.

Jika peyeumisasi dan teknologi plasma dingin kembali beroperasi optimal, kapasitas pengolahan Sukamiskin diproyeksikan mampu melampaui timbulan sampah warganya. Bukan hanya mengurangi beban TPS, sampah di Sukamiskin mulai diarahkan menjadi sumber daya yang menghasilkan manfaat ekonomi, pangan dan sosial bagi masyarakat. (*/red).


×
Berita Terbaru Update