Disnakertrans Jabar : Kembangkan SDC, Menyiapkan Tenagakerja Siap Pakai

BANDUNG, Faktabandungraya.com,--- Kepala Dinas Tenagakerja dan Transmigrasi Jawa Barat DR.M. Ade Afriandi mengatakan ada tiga (3) tantangan besar ketenagakerjaan di tengah kemajuan ekonomi digital yaitu Isu Bonus Demografi, Era Digitalisasi dan Revolusi Industri 4.0. Untuk itu, perlu dilakukan peningkatan kualitas pendidikan yang disesuaikan dengan kompetensi pekerja dengan kebutuhan pemberi kerja (link and match).

Selama pola pendidikan dan pelatihan kerja tidak disesuaikan dengan kemajuan teknologi/ digitaliasi tentunya masalah ketenegakerjaan atau pengangguran di Jawa Barat, sulit untuk dapat diatasi. Untuk itu, Disnakertrans Jabar telah meluncurkan Progam SMART Nakertrans dan pengembangan Skill Delopment Center (SDC) .

Menurut Kadisnakertrans Jabar DR. M.Ade Afriandi, angka pengangguran terbuka di Jabar akhir tahun 2018 mencapai 8 persen lebih , maka ditahun 2019 ini, kita menargetkan turun menjadi 7,9 persen pada akhir 2019 nanti.

Untuk menekan angka pengangguran di Jabar, Disnakertrans Jabar akan memperluas kesempatan kerja dan membuka peluang usaha dengan berkolaborasi dengan berbagai pihak. Namun, disisi lain tentunya kita harus meningkatkan kapasitas dan ketrampilan angkatan kerja yang berbasis digital dan teknologi untuk memenuhi kebutuhan pasar dan mengembangkan inkubator bisnis. Salah satunya melalui pengembangan Skill Delopment Center (SDC), kata Ade Afriandi saat ditemui disela perayaan HUT Kemerdekaan RI dan HUT Jabar 74 dan Gathering Karyawan Disnakertrans di Demplot Tansmigrasi Jabar, Cileunyi Kabupaten Bandung, kemarin.

Adapun tujuan program SDC adalah untuk meningkatkan dapat daya saing tenaga kerja dan menurunkan angka tingkat pengangguran melalui peningkatan partisipasi angkatan kerja dengan konsep pendekatan kerja sama yang melibatkan semua pemangku kepentingan. Seperti dunia usaha, pemerintah daerah, dan lembaga pelatihan kerja.

Selain itu, melalui SDC akan terjalin keterpaduan antara industri dengan lembaga pendidikan dan pelatihan yang disesuaikan dengan kebutuhan dunia industri, ujarnya.

Ade mengakui, persoalan yang terjadi saat ini, masih ada perbedaan instrumen antara industri dengan tenaga kerja. Dimana, tenaga kerja yang dibutuhkan industri tak sesuai dengan skill yang dimiliki calon tenaga kerja oleh karena itu output dari program SDC adalah tenaga kerja yang memiliki skill sesuai kebutuhan industri dengan spesialisasi keahilan yang beraneka rag . Untuk itu, melalui program SDC kita menyiapkan tenaga kerja siap pakai di dalam dan luar negeri.

"SDC harus dapat menjadi ujung tombak dalam meningkatkan partisipasi angkatan kerja karena SDC dirancang dapat melaksanakan lima fungsi yakni pelatihan, pemagangan, uji kompetensi, sertifikasi, dan penempatan angkatan kerja," jelasnya.

Lebih lanjut Ade mengatakan, program SDC pernah diluncurkan oleh Bappenas dan Kemenaker di provinsi Banten dan daerah lainnya, namun belum berhasil. Dan beberapa waktu lalu saya diundang oleh pihak Bappenas dan Kemenaker ke Jakarta terkait program kerja Disnakertrans Jabar.

Dihadapan para pejabat Bappenas dan Kemenaker, saya paparkan program inovasi dan kolaborasi SMART Nakertrans Jabar termasuk juga program SDC.

“Alhamdulillah, sambutannya cukup positif, siap mensupport dan bahkan meminta saya untuk mengembangkan SDC di Jabar. Karena Bappenas dan Kemenaker ternyata telah memiliki program SDC yang siap diluncurkan, bahkan anggarannyapun sudah disiapkan, ujar Ade.

Ade mengakui, sebenarnya animo masyarakat untuk mengikuti pelatihan ketenakerjaan cukup tinggi. Namun, karena sistem rekuitmen memang terbatas, setiap kali diselenggarakan pelatihan mungkin pesertanya hanya 20 orang. Disisi lain, pada ketika kita lakukan open recruitmen, ternyata dalam satu minggu pesertanya bisa mencapai 1.500 orang. Ini luar biasa. Apalagi kalau kita buka lebih lama lagi. ,” katanya

Dalam kesempatan yang sama, Ade juga mengatakan, saat ini Disnakertrans Jabar memiliki tiga Balai Latihan Kerja (BLK), yakni BLK Kompetensi di Bekasi, BLK Pekerja Migran dan BLK Mandiri di Bandung. Ade minilai ke depan BLK seperti itu cukup ada di tingkat kabupaten/kota. “Di provinsi kita siap kembangkan SDC yang pengembangannya berbasis digital. Ini akan lebih luas lagi karena memiliki spesialisasi yang lebih banyak lagi, tandasnya. (husein).

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.