Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Herry Dermawan : Harga Daging Ayam Melonjak , Peternak Tetap Saja Merugi

Kamis, 06 Juli 2023 | 11:35 WIB Last Updated 2023-07-12T04:41:18Z
Klik
Pedagang Ayam Potong di Bandung mengluh menurunnya omset dampak kenaikan harga jual (foto:ist).



BANDUNG, Faktabandungraya.com,--  Anggota Komisi II DPRD Jawa Barat Ir.H. Herry Dermawan,  membenarkan bahwa dalam beberapa pekan ini harga daging Ayam terus mengalami kenaikan harga, dan kini harganya mencapai Rp.42 ribu per kilogram.

Walaupun terjadi lonjakan harga daging ayam di pasaran, tetapi tidak dinikmati oleh Peternak Ayam bahkan mereka tetap saja merugi.   Hal ini karena melonjaknya biaya produksi daging ayam, harga pakan melonjak, ditambah lagi biaya transportasi.  Sehingga berdampak terhadap harga jual ditingkat konsumen.

“ Mahalnya daging ayam di hilir sampai ke tangan konsumen, tentunya juga berdampak negative bagi penjual ayam potong di pasar-pasar karena omsetnya berkurang. Masyarakat berkurang membeli daging ayam”, kata Herry Dermawan yang juga Ketua Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (GOPAN) di Indonesia Ir. Herry Dermawan kepada Faktabandungraya.com saat ditemui di gedung DPRD Jabar, Kamis, (6/7/2023).

Menurut Herry Dermawan,  berdasarkan Peraturan Badan Pangan Nasional (Perbadan) No 5/2022 tentang Harga Acuan Pembelian di Tingkat Produsen dan Harga Acuan Penjualan di Tingkat Konsumen Komoditas Jagung, Telur Ayam Ras, dan Daging Ayam Ras, batas bawah (BB) dan batas atas (BA) harga acuan pembelian di produsen untuk daging ayam ras (livebird/LB) masing-masing Rp 21 ribu per kilogram (kg) dan Rp 23 ribu per kg, harga acuan penjualan di konsumen untuk daging ayam ras (karkas) Rp 36.750 per kg.

Untuk itu, pihaknya sangat mendukung agar Perbadan No 5/2022 untuk dikaji ulang. Hal ini mengingat saat ini , biaya produksi DOC ayam ras telah mencapai Rp 6.784 per ekor.  Untuk itu, besaran  BB dan BA dari DOC perlu dinaikkan masing-masing menjadi Rp 6.000 per ekor dan Rp 7.500 per ekor. Dampaknya, biaya produksi LB saat ini telah mencapai Rp 22 ribu per kg, sehingga BB dan BA untuk LB diusulkan naik masing-masing menjadi Rp 23 ribu per kg dan Rp 25 ribu per kg.

Selanjutnya, biaya produksi karkas di rumah potong hewan unggas (RPHU) kini telah mencapai Rp 38 ribu per kg dan di pedagang Rp 42.900 per kg sehingga BB dan BA untuk karkas masing-masing perlu direvisi naik menjadi Rp 34.400 per kg dan Rp 40.800 per kg.

Melonjaknya biaya produksi daging ayam ras itu salah satunya karena efek kenaikan harga jagung untuk pakan.

Produsen LB misalnya, harus membeli pakan Rp 8.800 per kg, komposisinya jagung (50%) dan SBM impor (25%). Karena itu, ke depan, perlu direalisasikan adanya cadangan jagung pemerintah (CJP) seperti halnya cadangan beras pemerintah (CBP) untuk melakukan intervensi ketika sewaktu-waktu harga jagung di peternak melonjak, pinta politisi PAN Jabar ini.

Di sisi lain, perlu distribusi jagung dari wilayah surplus (sentra produksi) ke wilayah defisit (sentra peternakan) untuk menekan harga. Nasrullah menjelaskan, meski harga di hulu meningkat yang bisa jadi mengerek harga di hilir, kenaikan harga daging ayam ras di produsen tidak sebesar kenaikan di tingkat konsumen. Bahkan, peternak sekian lama merugi karena harga yang diperoleh di bawah harga BB dan baru saat ini mereka sedikit menarik nafas, tandasnya. (Adip/sein).

×
Berita Terbaru Update