![]() |
| Bedah rumah Rutilahu di Kota Bandung |
Farhan mengaku prihatin terhadap masih
banyaknya rumah warga yang belum memiliki septic tank. Menurutnya, kondisi
tersebut berdampak langsung pada tingginya kasus diare, stunting, hingga
tuberkulosis (TBC).
“Kalau masih buang air sembarangan,
artinya kita belum ODF. Tingkat diare tinggi, stunting tidak mungkin turun,”
ujar Farhan.
Ia menyatakan, rumah tidak layak huni
menjadi salah satu faktor utama penyumbang kasus TBC di Kota Bandung. Rumah
yang padat, minim cahaya matahari, dan sirkulasi udara buruk mempermudah
penularan penyakit menular.
“Rutilahu bukan sekadar soal tampilan
rumah, tapi soal kesehatan seluruh keluarga,” katanya.
Farhan juga menyoroti keterbatasan
akses air bersih di Pasir Endah yang masih menjadi 'blank spot' layanan PDAM.
Saat ini, warga mengandalkan sumur bor dan sistem air mandiri yang dikelola
secara swadaya.
Ia mengungkapkan, cakupan layanan PDAM
Kota Bandung baru mencapai sekitar 38 persen. Ke depan, Pemkot Bandung
menargetkan peningkatan hingga minimal 50 persen dalam dua hingga tiga tahun
mendatang.
Sebagai solusi jangka pendek, Farhan
membuka opsi pelayanan air bersih PDAM tanpa pipa melalui distribusi tangki
air, terutama untuk wilayah-wilayah yang sulit dijangkau jaringan pipa.
“Kita harus kreatif. Daripada air
dijual swasta, lebih baik PDAM yang hadir,” ujarnya.
Farhan memastikan seluruh persoalan,
mulai dari septic tank, rutilahu, hingga akses air bersih, akan ditindaklanjuti
melalui survei lapangan dan koordinasi lintas dinas agar penanganannya tepat
sasaran. (rob/red).
