Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

dr. Agung: Pengabdian Mahasiswa Harus Bertransformasi dari Program Seremonial Menjadi Dampak Nyata

Sabtu, 07 Februari 2026 | 22:56 WIB Last Updated 2026-02-07T15:56:11Z
Klik

Anggota Komisi IV DPRD Kota Bandung Dr. dr. Agung Firmansyah Sumantri, Sp.Pd., KHOM., MMRS., FINASIM., menjadi narasumber acara BEM KM Universitas Pasundan, di Pendopo Kota Bandung, (Foto : Humpro).


BANDUNG, FAKTABANDUNGRAYA,--- – Program pengabdian kepada masyarakat menjadi ruang penting bagi mahasiswa untuk mengasah kepekaan sosial sekaligus menghadirkan solusi atas persoalan nyata yang dihadapi warga. Pengabdian masyarakat merupakan satu dari tiga kewajiban dasar perguruan tinggi dalam Tri Dharma, selain pendidikan dan penelitian.

Hal tersebut disampaikan Anggota Komisi IV DPRD Kota Bandung, Dr. dr. Agung Firmansyah Sumantri, Sp.Pd., KHOM., MMRS., FINASIM., saat menjadi narasumber dalam kegiatan Upgrading Pengabdian Mahasiswa yang diselenggarakan BEM KM Universitas Pasundan. Kegiatan bertema “Grow to Make an Impact: Bergerak Bersama untuk Perubahan” itu digelar di Pendopo Kota Bandung, Sabtu (24/1/2026).

Menurut dr. Agung, mahasiswa tidak hanya berperan sebagai pelajar di ruang akademik, tetapi juga sebagai pelayan nilai dan penjaga nurani sosial di tengah masyarakat. Ilmu yang diperoleh di kampus, kata dia, harus diwujudkan dalam kontribusi nyata untuk membenahi persoalan sosial.

“Mahasiswa bukan hanya pelajar, tetapi pelayan nilai dan penjaga nurani sosial. Ilmu dibangun di ruang akademik, sedangkan pengabdian kepada masyarakat menjadi sarana menerjemahkan ilmu itu untuk menjawab persoalan di lingkungan sosial,” ujarnya.

Dalam paparannya bertajuk “Pengabdian Masyarakat: Dari Program Menjadi Dampak”, dr. Agung menyoroti sejumlah kesalahan umum dalam pelaksanaan pengabdian masyarakat. Ia menilai, banyak program masih bersifat seremonial dan berhenti ketika kegiatan selesai, tanpa keberlanjutan yang jelas.

“Sering kali dokumentasi melimpah, tetapi perubahan minim. Program berjalan, namun masalah tetap ada. Proyek selesai, relasi dengan masyarakat pun terputus. Seharusnya mahasiswa hadir dengan solusi yang lahir dari pemahaman terhadap kebutuhan warga,” tuturnya.

Ia menekankan bahwa pengabdian kepada masyarakat harus dimaknai sebagai kehadiran yang bermakna. Bukan sekadar simpati, melainkan rencana aksi yang terorganisir dan berkelanjutan. Mahasiswa, lanjutnya, perlu datang ke masyarakat untuk belajar, bukan menggurui.

dr. Agung juga memaparkan sejumlah prinsip agar pengabdian masyarakat dapat memberi dampak nyata, di antaranya berangkat dari masalah riil warga, merancang solusi yang relevan dengan konteks lokal, membangun kolaborasi, melibatkan masyarakat sebagai subjek aktif, serta menciptakan sistem mandiri agar program dapat berlanjut.

Selain itu, ia menilai pengabdian masyarakat merupakan wahana pembentukan karakter mahasiswa sebagai agen perubahan, kontrol sosial, sekaligus calon pemimpin masa depan. Peran agen perubahan, menurutnya, bukan soal menjadi yang paling lantang, melainkan mampu menginisiasi solusi, menggerakkan partisipasi, dan menghadirkan perubahan yang realistis.

“Contohnya bisa berupa sistem antrean layanan warga untuk meningkatkan efisiensi pelayanan publik, pemetaan keluarga rentan agar bantuan tepat sasaran, atau kelas literasi kesehatan dan keuangan,” jelasnya.

Dalam menjalankan fungsi kontrol sosial, mahasiswa diharapkan mampu menyampaikan kritik berbasis data dan adab, melakukan advokasi sesuai kebutuhan masyarakat, serta mengawal kualitas layanan publik. Proses tersebut, kata dr. Agung, sekaligus membentuk mental kepemimpinan yang berlandaskan nilai, kedisiplinan, dan integritas.

“Jangan merusak kepercayaan masyarakat. Hormati budaya lokal, pahami adat dan tata krama setempat, libatkan tokoh masyarakat, jaga komunikasi, serta lakukan dokumentasi secara beretika,” tegasnya.

Ia menambahkan, keberhasilan pengabdian masyarakat dapat diukur melalui perubahan perilaku warga, terbentuknya sistem baru yang menggerakkan potensi lokal, serta penurunan masalah yang dapat diukur secara nyata.

“Dampaknya tidak harus viral, tetapi harus terasa. Pengabdian yang baik melahirkan masyarakat yang mampu melanjutkan program secara mandiri. Jadikan pengabdian bukan sekadar program, melainkan karakter. Kita bergerak bukan untuk terlihat, tetapi untuk berdampak,” pungkasnya.

Kegiatan tersebut turut menghadirkan Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Bandung Gin Gin Ginanjar serta Ketua Tim Kerja SDM Kesehatan Asep Kamal Sahroni sebagai narasumber, dan dihadiri Wakil Rektor I Universitas Pasundan Prof. Cartono. (*/red). 

×
Berita Terbaru Update