Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Puncak Kemarau Mengancam, Zulkifly Chaniago Desak Pemprov Jabar Perkuat Antisipasi Karhutla

Minggu, 16 Agustus 2026 | 19:41 WIB Last Updated 2026-08-16T12:41:50Z
Klik

Kebakaran Lahan di Kabupaten Sukabumi ( Foto :ist).



BANDUNG , FAKTABANDUNGRAYA, — Memasuki puncak musim kemarau, Pemerintah Provinsi Jawa Barat diminta meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang berpotensi meluas di sejumlah wilayah.


Anggota Komisi IV DPRD Jawa Barat dari Fraksi Demokrat, H. Zulkifly Chaniago, BE, meminta Pemprov Jabar bersama seluruh pemangku kepentingan terkait untuk tidak menunggu kebakaran terjadi, melainkan memperkuat langkah pencegahan sejak dini.

Menurut Zulkifly, berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), musim kemarau di sebagian besar wilayah Jawa Barat berlangsung hingga sekitar Oktober 2026. Kondisi tersebut membuat kawasan hutan dan lahan semakin rentan terhadap kebakaran.

“DPRD Jabar melalui Komisi IV telah meminta pihak Pemprov Jabar untuk memperketat upaya pencegahan di lapangan sekaligus mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan dan menekan potensi karhutla sedini mungkin,” ujar Zulkifly di Bandung, Sabtu (15/8/2026).

Patroli dan Pemantauan Harus Diperkuat

Zulkifly menekankan pentingnya peran Dinas Kehutanan dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat dalam mengantisipasi potensi karhutla.

Ia meminta patroli berkala di kawasan rawan ditingkatkan, kondisi tutupan hutan dipantau secara konsisten, serta sosialisasi mengenai pencegahan kebakaran digencarkan hingga tingkat masyarakat.

Selain itu, koordinasi lintas sektor juga dinilai menjadi kunci. BPBD Jabar perlu memperkuat komunikasi dan kesiapsiagaan bersama BPBD kabupaten/kota, TNI, Polri, pemerintah daerah, relawan, hingga masyarakat.

“Untuk BPBD Jabar, langkah-langkah pencegahan harus terus dilakukan, terutama ketika memasuki musim kemarau. Tingkatkan pengawasan wilayah rawan kebakaran, penyebaran informasi peringatan dini, serta koordinasi dengan seluruh unsur terkait,” katanya.

Menurut politisi senior Partai Demokrat tersebut, kesiapan personel dan peralatan penanganan kebakaran juga harus dipastikan dalam kondisi optimal. Dengan demikian, setiap laporan maupun indikasi titik api dapat segera ditindaklanjuti sebelum berkembang menjadi kebakaran yang lebih besar.

“Kesiapsiagaan personel dan peralatan penanganan kebakaran juga terus diperkuat agar dapat melakukan respons cepat apabila terjadi kejadian,” tegasnya.

BMKG : keluarkan Prakiraan Cuaca wi wilayah Jabar (foto:bmkg)


Masyarakat Diminta Tidak Membakar Lahan

Zulkifly juga mengingatkan bahwa pencegahan karhutla tidak dapat hanya mengandalkan pemerintah. Kesadaran dan keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting dalam memutus potensi kebakaran sejak sumbernya.

Ia mengimbau warga tidak membuka lahan dengan cara membakar, tidak membakar sampah di sekitar kawasan hutan atau lahan kering, memastikan api unggun benar-benar padam, serta tidak membuang puntung rokok sembarangan.

Masyarakat juga diminta segera melapor kepada aparat atau instansi terdekat apabila menemukan asap, titik api, maupun aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran.

“Kita mengajak masyarakat aktif memberikan edukasi tentang mitigasi karhutla. Jangan membuka lahan dengan cara membakar dan jangan membuang puntung rokok sembarangan, khususnya di kawasan yang kondisi vegetasinya kering,” ujarnya.

90 Karhutla Terjadi di 72 Kecamatan

Ancaman tersebut bukan tanpa alasan. Berdasarkan data BPBD Jawa Barat per 10 Agustus 2026, tercatat 90 kejadian karhutla yang tersebar di 72 kecamatan di Jawa Barat.

Kabupaten Sumedang menjadi wilayah dengan catatan kejadian terbanyak, yakni 16 kasus, disusul Kabupaten Majalengka sebanyak 11 kasus dan Kabupaten Bandung sebanyak 8 kasus.

Data tersebut, kata Zulkifly, harus menjadi peringatan serius bagi pemerintah dan masyarakat agar tidak menganggap persoalan karhutla sebagai kejadian biasa.

Kondisi cuaca yang kering, rendahnya curah hujan, serta menurunnya kadar air pada vegetasi dapat mempercepat penyebaran api. Terlebih, sebagian kejadian kebakaran hutan dan lahan dipicu aktivitas manusia, baik karena kelalaian maupun praktik pembakaran yang tidak terkendali.

Dampak karhutla pun tidak sebatas kerusakan hutan dan lahan. Kebakaran dapat mengancam habitat satwa liar, merusak kualitas tanah, meningkatkan emisi gas rumah kaca, serta menghasilkan asap yang menurunkan kualitas udara dan berisiko bagi kesehatan masyarakat, terutama anak-anak dan kelompok lanjut usia.

“Menjaga kelestarian hutan sebagai penyangga kehidupan, penyedia air bersih, dan penyerap karbon merupakan tanggung jawab bersama,” kata Zulkifly.

Ia berharap seluruh elemen masyarakat tidak lengah selama periode kemarau. Menurutnya, pencegahan jauh lebih penting daripada menunggu api membesar dan baru melakukan penanganan.

“Mari kita sama-sama menjaga lingkungan dan hutan dari kebakaran hutan dan lahan selama musim kemarau. Jangan sampai kelalaian kecil berubah menjadi bencana besar,” pungkasnya. (dbs/sein).



×
Berita Terbaru Update