![]() |
| Kebakaran Lahan di Kabupaten Sukabumi ( Foto :ist). |
Anggota
Komisi IV DPRD Jawa Barat dari Fraksi Demokrat, H. Zulkifly Chaniago, BE,
meminta Pemprov Jabar bersama seluruh pemangku kepentingan terkait untuk tidak
menunggu kebakaran terjadi, melainkan memperkuat langkah pencegahan sejak dini.
Menurut
Zulkifly, berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika
(BMKG), musim kemarau di sebagian besar wilayah Jawa Barat berlangsung hingga
sekitar Oktober 2026. Kondisi tersebut membuat kawasan hutan dan lahan semakin
rentan terhadap kebakaran.
“DPRD
Jabar melalui Komisi IV telah meminta pihak Pemprov Jabar untuk memperketat
upaya pencegahan di lapangan sekaligus mengimbau masyarakat meningkatkan
kewaspadaan dan menekan potensi karhutla sedini mungkin,” ujar Zulkifly di
Bandung, Sabtu (15/8/2026).
Patroli
dan Pemantauan Harus Diperkuat
Zulkifly
menekankan pentingnya peran Dinas Kehutanan dan Badan Penanggulangan Bencana
Daerah (BPBD) Jawa Barat dalam mengantisipasi potensi karhutla.
Ia
meminta patroli berkala di kawasan rawan ditingkatkan, kondisi tutupan hutan
dipantau secara konsisten, serta sosialisasi mengenai pencegahan kebakaran
digencarkan hingga tingkat masyarakat.
Selain
itu, koordinasi lintas sektor juga dinilai menjadi kunci. BPBD Jabar perlu
memperkuat komunikasi dan kesiapsiagaan bersama BPBD kabupaten/kota, TNI,
Polri, pemerintah daerah, relawan, hingga masyarakat.
“Untuk
BPBD Jabar, langkah-langkah pencegahan harus terus dilakukan, terutama ketika
memasuki musim kemarau. Tingkatkan pengawasan wilayah rawan kebakaran,
penyebaran informasi peringatan dini, serta koordinasi dengan seluruh unsur
terkait,” katanya.
Menurut
politisi senior Partai Demokrat tersebut, kesiapan personel dan peralatan
penanganan kebakaran juga harus dipastikan dalam kondisi optimal. Dengan
demikian, setiap laporan maupun indikasi titik api dapat segera ditindaklanjuti
sebelum berkembang menjadi kebakaran yang lebih besar.
“Kesiapsiagaan personel dan peralatan penanganan kebakaran juga terus diperkuat agar dapat melakukan respons cepat apabila terjadi kejadian,” tegasnya.
BMKG : keluarkan Prakiraan Cuaca wi wilayah Jabar (foto:bmkg)
Masyarakat
Diminta Tidak Membakar Lahan
Zulkifly
juga mengingatkan bahwa pencegahan karhutla tidak dapat hanya mengandalkan
pemerintah. Kesadaran dan keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting dalam
memutus potensi kebakaran sejak sumbernya.
Ia
mengimbau warga tidak membuka lahan dengan cara membakar, tidak membakar sampah
di sekitar kawasan hutan atau lahan kering, memastikan api unggun benar-benar
padam, serta tidak membuang puntung rokok sembarangan.
Masyarakat
juga diminta segera melapor kepada aparat atau instansi terdekat apabila
menemukan asap, titik api, maupun aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran.
“Kita
mengajak masyarakat aktif memberikan edukasi tentang mitigasi karhutla. Jangan
membuka lahan dengan cara membakar dan jangan membuang puntung rokok
sembarangan, khususnya di kawasan yang kondisi vegetasinya kering,” ujarnya.
90
Karhutla Terjadi di 72 Kecamatan
Ancaman
tersebut bukan tanpa alasan. Berdasarkan data BPBD Jawa Barat per 10 Agustus
2026, tercatat 90 kejadian karhutla yang tersebar di 72 kecamatan di Jawa
Barat.
Kabupaten
Sumedang menjadi wilayah dengan catatan kejadian terbanyak, yakni 16 kasus,
disusul Kabupaten Majalengka sebanyak 11 kasus dan Kabupaten Bandung sebanyak 8
kasus.
Data
tersebut, kata Zulkifly, harus menjadi peringatan serius bagi pemerintah dan
masyarakat agar tidak menganggap persoalan karhutla sebagai kejadian biasa.
Kondisi
cuaca yang kering, rendahnya curah hujan, serta menurunnya kadar air pada
vegetasi dapat mempercepat penyebaran api. Terlebih, sebagian kejadian
kebakaran hutan dan lahan dipicu aktivitas manusia, baik karena kelalaian
maupun praktik pembakaran yang tidak terkendali.
Dampak
karhutla pun tidak sebatas kerusakan hutan dan lahan. Kebakaran dapat mengancam
habitat satwa liar, merusak kualitas tanah, meningkatkan emisi gas rumah kaca,
serta menghasilkan asap yang menurunkan kualitas udara dan berisiko bagi
kesehatan masyarakat, terutama anak-anak dan kelompok lanjut usia.
“Menjaga
kelestarian hutan sebagai penyangga kehidupan, penyedia air bersih, dan
penyerap karbon merupakan tanggung jawab bersama,” kata Zulkifly.
Ia
berharap seluruh elemen masyarakat tidak lengah selama periode kemarau.
Menurutnya, pencegahan jauh lebih penting daripada menunggu api membesar dan
baru melakukan penanganan.
“Mari
kita sama-sama menjaga lingkungan dan hutan dari kebakaran hutan dan lahan
selama musim kemarau. Jangan sampai kelalaian kecil berubah menjadi bencana
besar,” pungkasnya. (dbs/sein).
