Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Acep Jamaludin Apresiasi Inovasi Warga Melong Cimahi Jawab Krisis Sampah Bandung Raya

Kamis, 15 Januari 2026 | 08:49 WIB Last Updated 2026-01-19T01:56:26Z
Klik
Wakil Ketua DPRD Jabar H.Acep Jamaludin berdialog dgn pengelola Bank Sumberdaya Sampah Induk Melong 26 kota Cimahi  (foto:hms).



CIMAHI, Faktabandungraya,--- Di tengah menggunungnya persoalan sampah yang membayangi wilayah Bandung Raya, secercah harapan justru tumbuh dari gang-gang sederhana di Kelurahan Melong, Kota Cimahi. Di tempat inilah sekelompok warga, dengan segala keterbatasan, berupaya mengubah sampah plastik tak bernilai menjadi sumber energi alternatif.

Upaya tersebut menarik perhatian Wakil Ketua DPRD Provinsi Jawa Barat, H. Acep Jamaludin, S.Hum., yang melakukan kunjungan lapangan ke Bank Sumberdaya Sampah Induk Melong 26, Rabu (14/01/2026). Kunjungan itu bukan sekadar agenda seremonial, melainkan bentuk kepedulian terhadap inisiatif warga yang lahir dari kegelisahan bersama akan krisis sampah.

“Bandung Raya, khususnya Kota Cimahi dan Kota Bandung, sedang menghadapi persoalan serius soal sampah. Produksinya sangat tinggi, tapi pengolahan dan pemanfaatannya masih sangat rendah. Akibatnya, berbagai masalah lingkungan terus bermunculan,” ujar Acep di sela-sela kunjungan.

Namun di tengah kondisi tersebut, Acep justru menemukan semangat yang tak kalah besar dari tumpukan sampah yang ada. Ia menyaksikan langsung bagaimana kelompok masyarakat secara swadaya mengerahkan pikiran, tenaga, bahkan investasi pribadi untuk mencari solusi.

Salah satu inovasi yang mencuri perhatiannya adalah Petasol, produk olahan sampah plastik yang diubah menjadi bahan bakar sejenis solar. Sampah plastik yang selama ini dianggap tidak memiliki nilai, justru di tangan warga Melong menjelma menjadi energi alternatif.

“Di tengah situasi yang kurang baik, masih ada masyarakat yang mau bergerak, berinvestasi, dan berinovasi. Ini luar biasa. Sampah plastik yang tidak bernilai bisa diolah menjadi bahan bakar sejenis solar,” ungkap Acep dengan nada apresiatif.

Petasol, produk olahan sampah plastik yang diubah menjadi bahan bakar sejenis solar



Tak hanya berhenti pada hasil produk, Acep menilai keunggulan utama inovasi tersebut terletak pada kemandirian teknologinya. Mulai dari perakitan mesin, proses pengolahan sampah, hingga pemanfaatannya menjadi energi listrik, semuanya dilakukan secara mandiri oleh anak-anak bangsa.


“Mesinnya dibuat sendiri, sampahnya diolah sendiri, bahkan bisa menghasilkan elektrik. Ini bukan hal biasa. Ini terobosan yang wajib hukumnya diakselerasi dan didukung, baik oleh pemerintah provinsi, kabupaten/kota, hingga pemerintah pusat,” tegasnya.

Bagi Acep, apa yang dilakukan warga Melong bukan sekadar proyek pengolahan sampah, melainkan contoh nyata bagaimana persoalan lingkungan bisa dijawab melalui inovasi berbasis masyarakat. Karena itu, ia menyatakan komitmennya untuk memperjuangkan agar inovasi tersebut mendapat dukungan dan apresiasi yang lebih luas.

“Saya insyaallah akan menjadikan ini sebagai salah satu agenda perjuangan. Ini karya anak bangsa yang layak diapresiasi dan didorong agar menjadi solusi atas persoalan sampah kita,” pungkasnya.

Di tengah krisis yang kerap menghadirkan pesimisme, kisah dari Melong membuktikan bahwa perubahan bisa dimulai dari langkah kecil, dari warga biasa, yang berani bermimpi dan bertindak untuk lingkungan dan masa depan bersama. (*/sein).

×
Berita Terbaru Update