![]() |
| Pemkot Bandung dan ITB kolaboarasi tangani sampah kawasan Tamansari |
Kegiatan
tersebut dihadiri Sekda Kota Bandung Iskandar Zulkarnain, Sekda Jawa Barat
Herman Suryatman, jajaran kewilayahan, Dinas Lingkungan Hidup, serta akademisi
dan praktisi dari Institut Teknologi Bandung.
Wakil
Rektor ITB, Agus Jatnika, menyatakan ITB siap menjadi fasilitator agar
penanganan sampah di Kota Bandung segera masuk tahap implementasi nyata.
“Selama
ini persoalan sampah terlalu lama berhenti di tataran wacana. Sekarang saatnya
eksekusi,” ujarnya.
Menurut
Agus, berbagai teknologi pengolahan sampah yang telah dikembangkan ITB siap
diterapkan di masyarakat, mulai dari pengolahan styrofoam, plastik menjadi
brick block, hingga pengolahan sampah organik berbasis ekonomi sirkular.
Dosen
SBM ITB, Melia Famiola, menilai tantangan utama saat ini bukan lagi teknologi,
melainkan membangun kesadaran masyarakat agar sampah dipandang memiliki nilai
ekonomi.
“Sampah
jangan lagi dilihat sebagai beban, tetapi peluang ekonomi baru yang melibatkan
masyarakat,” katanya.
Sementara
itu, Sekda Kota Bandung Iskandar Zulkarnain mengungkapkan produksi sampah di
Kota Bandung mencapai sekitar 1.600 hingga 1.700 ton per hari, sedangkan
kapasitas pengiriman ke TPA Sarimukti hanya sekitar 980 ton per hari.
Menurutnya,
Pemkot Bandung telah melakukan berbagai upaya seperti penyediaan insinerator,
RDF, komposter, hingga penguatan program pengolahan sampah mandiri di tingkat
kewilayahan.
Dalam
forum tersebut juga muncul usulan pengembangan platform komunikasi antar
pengelola sampah di Kota Bandung agar praktik pengolahan yang berhasil dapat
diterapkan di wilayah lain.
Salah
satu inovasi yang mendapat perhatian ialah konsep budidaya maggot dan
peternakan ayam berbasis sampah organik yang dikembangkan akademisi ITB di
kawasan Pasirlayung. Sistem tersebut dinilai mampu mengurangi sampah sekaligus
menghasilkan manfaat ekonomi bagi warga. (ziz/red).
